Menginjak Waktu

Sudut pandang orang pertama

Sudah setahun lebih sejak kejadian itu, namun semuanya masih terekam jelas dalam syaraf otakku. Segala sms-nya yang telah kuhapus, segala pembicaraan yang tidak direkam dengan alat penyadap, dan semua gerakan tubuhnya yang pernah tampil di depan kedua bola mataku.

“Semua terekam… tak pernah mati…”

lagu gila dari Upstairs itu semakin membuatku cekikikan mengingat semua hal yang telah terjadi di era patah hati ini. (HAHA-red)

Baiklah, sepertinya saya kurang bisa membuat cerita sudut pandang pertama, karena saya memang benci menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita. Saya lebih senang menjadi tokoh pembantu yang memegang kunci dalam jalan cerita, seperti peran yang baru saja saya dapatkan tadi siang untuk konser teater.

Heeei, peduli amat dengan diriku, kalian tidak pernah peduli padaku bukan?

Kurasuki pikiranku sendiri dan teman-temanku, aku selalu tahu apa yang dipikirkan teman-temanku. Bagiku, dalam persahabatan juga ada hukum timbal baliknya. Jika kita berjuang untuk mendekati seseorang, kelak ia yang akan berjuang untuk menjadi lebih dekat dengan kita. Aku percaya akan hal itu, namun sampai sekarang hukum tersebut tidak bisa diterapkan pada DIRINYA.

Persahabatanku juga mempunyai generasi.

Meskipun generasi baru ini belum mengenalku sedalam generasi sebelumnya, mereka lebih percaya dan mengandalkanku sebagai seorang pemimpin yang membuat kekacauan, dan aku bangga akan hal itu. Terkadang aku sedih saat mendengar lagu-lagu karangan Underoath. Untuk apa aku sedih karena menerima penolakan dari gadis gadis bodoh itu? Kehidupanku sudah sangat baik dan belum tentu menjadi lebih baik dengan adanya mereka.

Generasi SMP telah berakhir. Akan kumulai hidup baru tanpa mereka, dan sebagai inisiasi aku akan bergabung menjadi Misdinar dan Orang Muda Katholik yang berjuang untuk gereja.

Sudut pandang ketiga

Halo, kembali lagi pada saya sang penulis yang bodoh. Demikianlah sekelumit isi dari pikiran Ambrose.

Oh, anda tak tahu Ambrose? Baiklah kalau begitu silahkan anda baca cerpen pertama saya yang berjudul mengejar bayangan, karena jika tidak maka anda akan pusing tiga keliling membaca yang satu ini (dusta besar dengan tujuan memaksa)

Ambrose membuat review tentang apa saja yang terjadi dalam kehidupan SMP-nya. Apapun yang telah dilakukan, dampaknya masih terbawa sampai sekarang. Satu kejadian yang sampai sekarang ia sesali dampaknya semakin parah dari hari ke hari. Ia tidak tahu, apakah suatu kesalahan mengenal Katarina? Ataukah yang menjadi kesalahan adalah karena jatuh hati pada Hera? Yang jelas kedua hal tersebut menjadi masalah KECIL dalam hidupnya saat ini.

Katarina bagaikan malaikat murni, hatinya bagai kapas dan pikirannya jernih bagai sumber mata air di gunung. Namun demikian pada faktanya ia tetap saja manusia yang bisa melakukan kesalahan. Kesalahan adalah sesuatu yang salah, di mata seseorang, namun mungkin tidak salah di mata lainnya. Ambrose sayang pada dirinya, sebagai pasangan yang selalu memegang tangan partnernya disaat yang satu tergelincir.

Namun sayang, mungkin sudut pandang Katarina berbeda, dan sudut pandang itu membuat konflik yang tak kunjung usai. Memang benar hukum tersebut, bahwa semakin kita dekat dengan seseorang, maka semakin mudah juga untuk memulai konflik dengannya.

Josephine, sebagai ‘calon Katarina kedua’ merupakan relawan kepercayaan Ambrose dalam menyadap informasi-informasi di wilayah musuh. Namun demikian Ambrose sudah cukup muak dengan laporan-laporan menyakitkan yang datang dari dirinya. Ambrose tidak mau peduli lagi dengan apa yang mereka pikirkan tentang dirinya. Josephine sangat mengerti dan hanya menurut saja. Setidaknya ia tidak sepenuhnya mengerti tentang masalah Ambrose.

Ambrose menyadari, memiliki seseorang tidak membawa kebahagiaan. Melihat hasil renungannya, ternyata memiliki teman-teman cewek cantik jauh lebih membahagiakan daripada memiliki seorang cewe artis. Ya, kira-kira demikianlah kiasannya.

Hari ini

“Aku menjadi bingung apakah aku harus mengubah salah satu dari mereka menjadi kekasihku?” — demikianpun, hal itu belum tentu berhasil, resiko negatifnya berbanding 5 daripada keuntungannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s