Menginjak Waktu

Sudut pandang orang pertama

Sudah setahun lebih sejak kejadian itu, namun semuanya masih terekam jelas dalam syaraf otakku. Segala sms-nya yang telah kuhapus, segala pembicaraan yang tidak direkam dengan alat penyadap, dan semua gerakan tubuhnya yang pernah tampil di depan kedua bola mataku.

“Semua terekam… tak pernah mati…”

lagu gila dari Upstairs itu semakin membuatku cekikikan mengingat semua hal yang telah terjadi di era patah hati ini. (HAHA-red)

Baiklah, sepertinya saya kurang bisa membuat cerita sudut pandang pertama, karena saya memang benci menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita. Saya lebih senang menjadi tokoh pembantu yang memegang kunci dalam jalan cerita, seperti peran yang baru saja saya dapatkan tadi siang untuk konser teater.

Heeei, peduli amat dengan diriku, kalian tidak pernah peduli padaku bukan?

Kurasuki pikiranku sendiri dan teman-temanku, aku selalu tahu apa yang dipikirkan teman-temanku. Bagiku, dalam persahabatan juga ada hukum timbal baliknya. Jika kita berjuang untuk mendekati seseorang, kelak ia yang akan berjuang untuk menjadi lebih dekat dengan kita. Aku percaya akan hal itu, namun sampai sekarang hukum tersebut tidak bisa diterapkan pada DIRINYA.

Persahabatanku juga mempunyai generasi.

Meskipun generasi baru ini belum mengenalku sedalam generasi sebelumnya, mereka lebih percaya dan mengandalkanku sebagai seorang pemimpin yang membuat kekacauan, dan aku bangga akan hal itu. Terkadang aku sedih saat mendengar lagu-lagu karangan Underoath. Untuk apa aku sedih karena menerima penolakan dari gadis gadis bodoh itu? Kehidupanku sudah sangat baik dan belum tentu menjadi lebih baik dengan adanya mereka.

Generasi SMP telah berakhir. Akan kumulai hidup baru tanpa mereka, dan sebagai inisiasi aku akan bergabung menjadi Misdinar dan Orang Muda Katholik yang berjuang untuk gereja.

Sudut pandang ketiga

Halo, kembali lagi pada saya sang penulis yang bodoh. Demikianlah sekelumit isi dari pikiran Ambrose.

Oh, anda tak tahu Ambrose? Baiklah kalau begitu silahkan anda baca cerpen pertama saya yang berjudul mengejar bayangan, karena jika tidak maka anda akan pusing tiga keliling membaca yang satu ini (dusta besar dengan tujuan memaksa)

Ambrose membuat review tentang apa saja yang terjadi dalam kehidupan SMP-nya. Apapun yang telah dilakukan, dampaknya masih terbawa sampai sekarang. Satu kejadian yang sampai sekarang ia sesali dampaknya semakin parah dari hari ke hari. Ia tidak tahu, apakah suatu kesalahan mengenal Katarina? Ataukah yang menjadi kesalahan adalah karena jatuh hati pada Hera? Yang jelas kedua hal tersebut menjadi masalah KECIL dalam hidupnya saat ini.

Katarina bagaikan malaikat murni, hatinya bagai kapas dan pikirannya jernih bagai sumber mata air di gunung. Namun demikian pada faktanya ia tetap saja manusia yang bisa melakukan kesalahan. Kesalahan adalah sesuatu yang salah, di mata seseorang, namun mungkin tidak salah di mata lainnya. Ambrose sayang pada dirinya, sebagai pasangan yang selalu memegang tangan partnernya disaat yang satu tergelincir.

Namun sayang, mungkin sudut pandang Katarina berbeda, dan sudut pandang itu membuat konflik yang tak kunjung usai. Memang benar hukum tersebut, bahwa semakin kita dekat dengan seseorang, maka semakin mudah juga untuk memulai konflik dengannya.

Josephine, sebagai ‘calon Katarina kedua’ merupakan relawan kepercayaan Ambrose dalam menyadap informasi-informasi di wilayah musuh. Namun demikian Ambrose sudah cukup muak dengan laporan-laporan menyakitkan yang datang dari dirinya. Ambrose tidak mau peduli lagi dengan apa yang mereka pikirkan tentang dirinya. Josephine sangat mengerti dan hanya menurut saja. Setidaknya ia tidak sepenuhnya mengerti tentang masalah Ambrose.

Ambrose menyadari, memiliki seseorang tidak membawa kebahagiaan. Melihat hasil renungannya, ternyata memiliki teman-teman cewek cantik jauh lebih membahagiakan daripada memiliki seorang cewe artis. Ya, kira-kira demikianlah kiasannya.

Hari ini

“Aku menjadi bingung apakah aku harus mengubah salah satu dari mereka menjadi kekasihku?” — demikianpun, hal itu belum tentu berhasil, resiko negatifnya berbanding 5 daripada keuntungannya.

Advertisements

Mengejar Bayangan

Masa Lalu Tentang Dirinya

Embun Pagi

Terlihat di pagi hari, di mata kecil Herta yang baru saja kembali dari negeri mimpi tersebut. Ya, negeri yang harus dilaluinya setiap malam dan bahkan terkadang mengusirnya secara mendadak. Sehingga ia dapat kembali di saat seharusnya ia masih menjelajah tempat mengerikan tersebut. Bagi orang lain, negeri mimpi tersebut adalah tempat untuk melihat impian-impian yang tidak dapat atau BELUM tercapai.

Tapi bagi beberapa yang lain, tempat ini adalah tempat terburuk untuk mengenang dan membayangkan apa yang buruk di hidup mereka. Sayang, Herta termasuk salah satu dari mereka golongan kedua

Dengan ukuran mata setengah dari aslinya, Herta melangkah keluar kamar. Matanya yang masih berukuran kecil itu namun sudah sigap mencari sarapan buatan ibunya. Seperti biasa, anggota keluarganya sudah siap untuk makan saat ia masih kesulitan untuk mencari posisi duduk yang nyaman. 30 menit sudah terlewat untuk rutinitas pagi Herta, kini ia tinggal menunggu mobil jemputan tercinta yang akan membawanya ke sekolah.

Mobil Bersejarah

Kini benda yang ditunggu telah datang, mobil jemputan bersejarah yang akan segera mengantarnya ke sekolah, bersama teman-temannya tercinta. Seperti biasa, selangkah menginjak permukaan mobil tersebut, secara kompak teman-temannya akan berkata “Selamat Pagi Herta !!” seperti reflek kucing yang diinjak ekornya. Balasan senyum dari Herta yang secepat kilat pun membalasnya. Dan Herta telah bergabung di ‘singgasana’ barisan kedua dari mobil tersebut. Mereka akan segera memulai ‘Rapat’ sembari menunggu bergabungnya anggota lain, yaitu Cindy, dan Katarina, yang akan bergabung sebentar lagi.

Rapat Para Ratu

Para penghuni mobil bersejarah tersebut memulai rapat pagi yang dilakukan rutin setiap hari, tanpa memandang umur masing-masing dari mereka, dari yang mengenakan seragam putih-biru sampai putih-abu sekalipun. Dan yang paling memusingkan, topik yang dibahas tidak pernah habis, bahkan suara bising mereka dapat membunuh serangga yang hanya numpang lewat di mobil mereka ! Namun percaya maupun tidak, sang supir sangat tahan dengan suara bising mereka. Namun sudah sebulan ini, Herta mulai ‘pasif’ dalam rapat mereka. Dahulu, bisa dibilang bahwa Herta adalah salah satu kordinator dalam rapat mereka, dan juga merupakan anak terbawel diantara yang terbawel. Namun keadaan telah berubah sekarang,

dan sepertinya BELUM ada yang tahu permasalahan yang sebenarnya.

Semakin lama jumlah mereka semakin bertambah, dimulai dari 5 orang saat menjemput Herta, dan kini mobil tersebut berisi 21 orang yang mengicaukan gosip-gosip seru. Kicauan ini tak akan berhenti lebih dari 5 detik sampai mereka tiba di Sekolah mereka tercinta : Ashley Catholic School, yang letaknya di sangat jauh dari rumah mereka. Berpetualang didalam mobil jemputan dari Jakarta Barat sampai Timur. Ya, itulah yang dilakukan mereka sehari-hari

Tak terasa 35 menit telah berlalu, dan mereka telah sampai di sekolah mereka, yang letaknya sangat jauh dari rumah asal mereka semua. Karena memang, semua cewek ini berasal dari wilayah yang sama.

Ruang Siksaan

Ya, sebutan yang diberikan bagi para pelajar bagi sebuah ruangan terindah, dimana ruang tersebut dipenuhi meja dan kursi, dan terkadang dijaga oleh sebuah makhluk yang diangap mengerikan, bernama GURU. Jika kegiatan mengerikan yang disebut BELAJAR dilakukan, ruang ini bagaikan neraka bagi mereka. Namun siapa sangka, terkadang GURU yang sangat ditakuti tersebut juga bisa menjadi malaikat bagi mereka, meskipun pada kenyataannya, mereka memang hidup sebagai malaikat yang mempersiapkan masa depan para muridnya.

Herta dan teman sejemputannya telah sampai di sekolah mereka, dan anak SMP berpisah dengan SMA. Herta memasuki ruangan 9-3, bersama dengan teman sekelasnya yang juga satu jemputan, sambil melambaikan tangan kepada Nissa , Bella, dan Katarina yang berbeda kelas.  Sesudah itu, kembali melambaikan tangan kepada Vani dan teman-temannya yang sudah menanti didalam. Sungguh pagi hari yang sangat indah dan memang indah pada wajarnya, namun tidak di mata Herta…

Siksaan (yang disebut pelajaran bagi orang tak waras) akan dimulai 15 menit lagi. Ya, doa dan renungan pagi yang tak boleh terlewatkan bagi para umat Kristiani, dan merupakan sarapan pagi sekolah yang terkadang dinikmati atau bahkan dibuang sia-sia. Selera setiap orang berbeda-beda, demikian juga hal tersebut berlaku terhadap selera rohani mereka.

Cukup sudah dengan sarapan ‘dua rasa’ tersebut. Kini hidangan utama telah datang, pembahasan tentang logaritma yang membuat otak kanan menyelam ke langit dan otak kiri melayang ke laut. Dan lebih sedapnya, hari ini adalah UJIAN bagi kelas 9-3.

Seperti tradisi para pelajar sekolah ini, kebanyakan muridnya tidak belajar dalam menghadapi ulangan matematika. Namun berbeda dengan Herta, selain tidak belajar, dia juga tidak paham terhadap apa yang dijelaskan gurunya. Alhasil, sang ‘hidangan utama’-pun tidak disantap sesuap-pun.

Dan hasilnya tentu saja sudah pasti NOL, angka yang sangat indah…

Menyenangkan, namun juga menggiurkan…

Muak sudah seisi kelas tersebut dengan pelajaran berhitung tersebut. Banyak dari mereka yang merobek kertas yang diisi oleh angka-angka yang beraneka rupa. Di saat pergantian jam pelajaran, Herta keluar kelas, berusaha menemui teman-temannya di kelas yang lain. Namun usahanya gagal. Kelas lain telah terjaga oleh guru-guru yang kejam. Dengan perasaan kesal dan ngantuk, ia kembali duduk disamping Vani, karena terlihat Pak Herry, guru Komputer mereka, telah datang.

Setelah mempelajari rumus logaritma yang mematikan, kini datang hidangan penutup yang tak kalah lezat, rumus HTML !! Mungkin Pak Herry masih berbaik hati karena tidak lagi merusak otak siswa 9-3 setelah pelajaran sebelumnya. Namun sebagai gantinya, tangan mereka akan kepegalan untuk mencatat rumus pembuatan website yang jumlahnya lebih dari ratusan !!

ISTIRAHAT

Saat yang paling ditunggu, dimana para monster terkurung di sarangnya sehingga peserta didik bebas untuk melakukan apa saja yang dikehendaki (walau sebenarnya tidak). Herta berkumpul dengan ‘organisasi’-nya, untuk melakukan hal-hal bodoh yang terkadang dianggap cerdas oleh beberapa orang jenius dan tidak waras. Katarina, yang DULU merupakan teman baik Herta, selalu memperhatikan kelakuan Herta bersama dengan teman-temannya. Sungguh, Herta yang dikenal baik olehnya dulu telah musnah tertelan bumi. Yang dilihatnya sekarang adalah segala yang buruk dari diri Herta, yang menyatu sehingga menjadi kepribadian dirinya yang lain. Katarina, bersama dengan Putri, hanya bisa menggelengkan kepalanya, saat terkadang melihat darah yang keluar dari lengan atau bahkan leher mereka. Jujur saja, dimata Katarina, Herta sudah 100% bukan temannya lagi. Katarina bahkan tidak ingin menganggapnya sebagai teman. Namun entah mengapa, di hati kecilnya masih tersisa belas kasihan terhadap MANTAN teman baiknya itu. Ia sangat berharap Herta kembali menjadi dirinya yang dahulu dan membuang semua permasalahannya saat ini. BUANG !! SAMPAI KE LAUT YANG PALING DALAM.

Kembali ke kelas

Kembali ke siksaan, yang sudah mereda setelah bersenang-senang. Dan kecemasan mereka berkurang karena pelajaran berikutnya adalah Kesenian, dimana SEBAGIAN BESAR dari mereka dapat bersenang-senang, selagi yang lain bete dan seringkali ketiduran karena tak ada yang bisa dilakukan dalam pelajaran kesenian ini. Herta kembali bergabung dengan Katarina untuk mengikuti kesenian musik. Mereka tidak sabar untuk menggesekkan kuku  dan jari mereka kepada senar-senar gitar tersebut.

Namun diluar dugaan, pelajaran musik hari itu sangat membosankan ! Pak Arief, guru musik utama mereka, tidak masuk karena harus menghadiri pernikahan adiknya tercinta, sehingga mereka kembali diajar oleh Pak Herry, guru komputer yang ahli juga di bidang musik. Sayangnya, Pak Herry lebih mahir dalam musik digital, sehingga pada pelajaran kali ini, mereka kembali dihadapkan pada rumus-rumus untuk membuat musik digital !

Muak sudah Herta, meskipun sebenarnya Katarina senang dengan hal ini. Karena Katarina mencintai musik maupun pem-rogaman komputer. Sedangkan Herta, meskipun cinta untuk menggunakan komputer, namun benci untuk mempelajari fungsi-fungsi.

Tinggal melewati satu pelajaran lagi sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing : Bahasa Indonesia. Pelajaran yang harus dikuasai sebagai bangsa Indonesia, namun malah dispelekan oleh rakyat Indonesia sendiri. Meskipun setiap hari berbicara bahasa Indonesia, namun rasanya sulit sekali untuk mendapatkan nilai memuaskan pada pelajaran ini. Untungnya mereka hanya disuruh untuk merangkum artikel yang sangat panjang. Dan hasil rangkuman merekapun dapat dibawa ke rumah untuk dilanjutkan, sehingga tugas ini sedikit mudah dan tidak banyak yang selesai mengerjakan di sekolah. Bel sekolah telah berbunyi, dan waktunya untuk pulang, ratu-ratu mobil jemputan kembali. Dan perlu diketahui, mulut mereka pada siang hari lebih mudah untuk berkata-kata daripada pagi hari.

Homecoming

Hidup bagaikan menyelam ke langit dan melayang ke laut

Sebuah motto hidup Nissa yang menggambarkan jelas suasana hati Herta. Sayangnya Herta tidak cukup peka untuk menelusuri motto hidup tersebut.

Siang hari, memberikan suasana yang lebih panas dan terang, sehingga otak pun bertambah terang untuk menceritakan gosip-gosip panas, yang didukung oleh cuaca yang sangat panas sehingga teligna yang mendengarnya menjadi panas pula. Diskusi kembali merusuh sembari menunggu murid SMA yang akan pulang ke rumah, bergabung dengan mobil legendaris tersebut. Namun jumlah dari mereka akan berkurang setiap pulang sekolah, karena banyak dari mereka yang sibuk melakukan kegiatan tambahan di sekolah, dan jadwal pulang yang berbeda-beda. Sekarang hanya tinggal menunggu dan menunggu, sambil terus berbicara tanpa henti. Di sela-sela kesibukan bibir mereka, terkadang mereka keluar untuk mencari hawa segar dan minuman menyegarkan untuk melemaskan bibir mereka.

Perjalanan dimulai dan waktu yang dibutuhkan untuk mengantar Herta ke rumah lebih singkat dari pagi hari. Dalam waktu kurang lebih 25 menit Herta sudah sampai ke rumahnya tercinta, dimana saat itu hanya ada mbok (pembantunya) yang sedang menyiram tanaman. Herta masuk ke rumah dengan lunglai dan segera minum susu untuk menyegarkan otaknya.

Rumah, tempat dimana semuanya berawal. Ketika Herta membawa pulang selembar kertas yang berisikan angka-angka, yang rata-rata dimulai dengan kepala dibawah 7. Hal ini men-transformasi sosok mamanya menjadi sebuah monster, dan akhirnya membawa dampak yang sangat buruk pada otak Herta. Sebenarnya merupakan hal yang konyol, karena memang kedua wanita ini sifatnya kekanak-kanakan. Mereka mudah sekali ngambek dan suka membesar-besarkan masalah.

Dan tentu saja, 2 orang pria di rumah tersebut menjadi nyamuk jika ada kedua suara rusuh yang sedang bertengkar. Dan seorang wanita tua, yang sosoknya jarang muncul, menggelengkan kepala tanpa melihat perang tersebut.

Ya, hal yang konyol !!

Namun entah mengapa, hal tersebut membuat Herta menjadi semakin kekanak-kanakan. Membesar-besarkan masalah, dan suka mogok makan secara GAGAL, merupakan kejadian aneh yang seringkali membuat marah orang-orang di sekelilingnya, dan di sisi lain, menjadi bahan tertawaan orang-orang lainnya.

Bayangan Masa Lalu

Kehidupanku saat ini

Sudah cukup membahas masa lalu dirinya. ‘Pihak-pihak berwajib’ sudah mencuci otaknya dan menyelesaikan segala permasalahannya. Namun mata murni Katarina tetap tahu, Herta yang dulu belum sepenuhnya kembali. Namun demikian, setidaknya dia tidak akan kehilangan salah satu sahabat terbaiknya untuk selamanya. Meskipun tali persahabatan mereka tak sekuat dulu, tapi hal itu sudah cukup memuaskan Katarina, meskipun dia masih sangat ingin membunuh kepribadian buruk Herta yang tersisa, sampai ke neraka terdalam ! Ya, Katarina terus mengejar bayangan masa lalu Herta yang telah melenyapkan salah satu sahabatnya. Mungkin sekarang Katarina-lah yang sudah gila !!

Katarina adalah seorang yang perfeksionis dan menginginkan hal-hal disekitarnya agar menjadi sesuai keinginannya. Sehingga jika ia sudah mengkehendaki untuk menginginkan sesuatu, maka ia akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkannya, termasuk kepribadian temannya yang sudah tenggelam kedalam tanah !!

MUSIKALISASI

Herta mengambil gitarnya dan memainkan lagu kesayangannya, It’s Not Easy to Be Me, yang dikarang oleh Five For Fighting. Ya, dia sangat menyukai lagu itu, dan lagu itulah yang membuatnya ingin bermain gitar. Lirik lagu itu pula yang menyusun kehidupannya sehari-hari. Ia melepas nafas yang dalam, mengingat bahwa betapa bodohnya ia di masa lalu, disaat dia takluk pada keputusasaan dan jatuh dalam kesalahan yang sangat banyak. Dia bahkan merasa bersalah karena membuat Ambrose sempat benci padanya, dan mungkin sampai sekarang rasa benci itu masih dipendam di dalam diri Ambrose, setelah disakiti habis-habisan oleh Herta setelah menyatakan perasaan cintanya. Sungguh tindakan yang sangat bodoh, pikirnya. Ambrose sudah berkorban begitu banyak dan sangat menyayangi Herta, namun ia malah membalas semuanya itu dengan menyakiti hati Ambrose. Ia merenung kembali, dan teringat bahwa Ambrose merupakan cowok yang sangat baik. Herta yakin, Ambrose pasti sudah melupakan dan memaafkan segala kesalahannya. Lagipula, sepertinya Ambroser telah jatuh hati pada cewek lain yang merupakan adik kelasnya. Ya, hal itulah yang didengar olehny dari Katarina, yang merupakan sahabat dekat Ambrose pula.

Merasa terlalu lama merenung, akhirnya Herta memutuskan untuk belajar Geografi sambil mendengarkan lagu-lagu hardcore yang pernah diberikan Ambrose padanya. Namun baru 5 menit belajar, Herta sudah tidak tahan dengan lagu-lagu tersebut dan akhirnya menggantinya dengan lagu-lagu slow rock era 90-an. Cukup memberi dukungan dalam belajar. Buku pelajaran gitar pemberian Ambrose pun masih terbuka manis disamping buku geografi yang dibacanya.

Seling 5 menit Herta melihat HP-nya. Ada 3 buah SMS baru. Dia cukup senang karena dapat beristirahat sejenak untuk ber-sms. Hmm… Sebuah SMS dari Edwin yang isinya tidak jelas, SMS dari Vani yang menanyakan tugas Inggris, dan SMS dari Ambrose yang mengucapkan Good Luck untuk ujian besok. Seperti biasa, dengan senyum tipis Herta membalas ketiga SMS tersebut dengan singkat dan padat. Dan Ambrose merupakan pembalas tercepat pada dasarnya. Akhirnya Herta pun belajar sambil ber-SMS dengan ketiga orang tersebut. Dan agar lebih seru, Herta akhirnya mengirim SMS kepada beberapa orang temannya agar hiburannya bertambah. Secara tiba-tiba dia lupa kewajibannya untuk belajar Geografi.

Pada akhir dialognya dengan Ambrose dalam dunia ponsel, Ambrose mengundangnya untuk hadir dalam pesta ulang tahunnya minggu depan, bersama dengan Bella, Katarina, dan Shelyn. Sungguh menarik, setidaknya Herta dapat membalas budi buku gitar yang merupakan hadiah ulang tahun dari Ambrose. Herta pun segera memikirkan buku yang tepat yang harus diberikan kepada Ambrose.

Persahabatan

Hal yang indah namun kadang menyakitkan. Disamping itu, sangat sulit untuk dimengerti dan terdapat misteri didalamnya. Bahkan misteri dalam persahabatan lebih sulit dipecahkan daripada misteri keajaiban ular. Persahabatan bisa membuatmu tertawa saat kamu kehilangan harta bendamu, namun juga bisa membuatmu menangis saat kamu memenangkan undian sebesar jutaan rupiah. Setiap orang pasti pernah merasakannya, kecuali mereka yang tidak punya sahabat. Sebenarnya setiap orang pasti memiliki sahabat, namun banyak dari kita yang tidak menyadari keberadaan mereka…

Herta baru saja selesai membersihkan diri dan segera bersiap untuk kursus Inggris. Tempat yang cukup jauh dari rumahnya, tapi merupakan tempat belajar paling menyenangkan bagi dirinya. 10 atau bahkan 15 menit diperlukan untuk sampai ke tempat tersebut, sehingga Herta harus bersiap-siap lebih awal daripada teman-teman sekelasnya yang hanya membutuhkan 5 menit untuk sampai, atau  10 menit juga, dengan berjalan kaki.

Setelah sampai, ia sangat kebingungan. Belum pernah ia melihat bahwa gedung tempat menimba ilmu berbahasa Inggris itu sedemikian sepi karena belum ada yang datang. Dia bertanya pada receptionist dan berkata bahwa ada murid yang menunggu di dalam kelas, sedang yang lain memang belum datang. Akhirnya iapun terpaksa menunggu di depan receiptionist, ketimbang harus menunggu di kelas sendirian, pikirnya. 5 menit dihabiskannya dengan duduk sendirian sampai akhirnya Katarina datang. Tanpa menaruh tas di kelas, Katarina menemani Herta untuk menunggu teman-teman mereka, meskipun kelas mereka berbeda. Baru 3 menit berbincang, Lukas dan Ambrose masuk berdesakan sambil menarik narik Novan, kegiatan rutinitas yang mereka lakukan bila datang bersama. Melihat adanya Herta, Lukas lari bersama Renovan, meninggalkan Ambrose bersama dengan kedua cewek itu di lobby. Ketiganya terdiam, dan mereka bertiga dikagetkan oleh suara sang receptionist yang menawarkan mereka untuk masuk ke kelas. Akhirnya Ambrose berkata kepada mereka bahwa ia akan memasuki kelas terlebih dahulu. Katarina mengajak Herta untuk ikut masuk ke kelasnya, namun Herta menolaknya dan langsung naik ke lantai 3 untuk masuk ke kelasnya.

Kelas pun dimulai dan mereka semua belajar masing-masing di kelasnya seperti biasa. Lucas yang akhir-akhir ini pendiam akhirnya menjadi penghibur kembali. Masih belum ada yang tahu mengapa dia sempat berubah drastis, karena persahabatan memang selalu misterius dan tidak akan mudah ditebak. Kelas Katarina sedikit berbeda hari ini. Ambrose dan Novan membawa gitar masing-masing sehingga terkadang mengganggu pelajaran yang berlangsung, memang tidak ada peraturan yang emlarang hal-hal seperti itu seperti di sekolah, namun guru tetaplah guru, dan status guru semuanya sama, mereka berhak mengatur kelas mereka seperti apapun kehendak mereka, sehingga iapun menyita gitar mereka berdua sampai waktu istirahat.

Penyegaran

20 menit diberikan untuk beristirahat pada semua kelas di kursus tersebut karena ada rapat penting bagi para pengajar. Penting bagi para pengajar maupun pelajar yang ingin bersenang-senang lebih lama. Akhirnya karena waktu istirahat serentak, gedung itupun penuh dengan murid-murid yang menimba ilmu berbahasa Inggris dari berbagai kelas dan level. Katarina bersama Herta duduk di lantai pertama, di samping 3 orang cewek lain yang tidak dikenal identitasnya. Sedangkan murid lain dari kelas Katarina segera keluar gedung untuk berlomba-lomba membeli jajanan yang diinginkan sebelum habis tersikat teman mereka sendiri atau bahkan orang yang tidak dikenal. Lagipula, semakin lama mereka datang, maka bisa-bisa waktu istirahat sudah berakhir sehingga tidak sempat makan jajanan yang telah mereka beli.

Kembali masuk ke Lobby, dan Ambrose hanya tersenyum melihat Katarina dan Herta yang masih berbicara terus berdua, seperti layaknya orang berpacaran. Lukas berbisik pada Ambrose “Deketin aja, kesempatan bagus tuh!” Ambrose menjawab dengan tegas, “Gw uda bosen denger kalimat itu dari loe, ganti kek modelnya !”

Lukas tertawa dan menebak dengan yakin ”Feeling loe ama dia belom berubah kan?”

“Kalo menurut loe DIA berubah, maka feeling gw juga” Jawabnya sambil tertawa dan mendekati kedua cewek itu seperti usul Lukas. “Eh, gimana ujiannya?” Sapa Ambrose sambil memegang bahu kedua cewek itu. Herta dengan muka imutnya berkata singkat “Susah !” sedangkan Katarina menjawab sambil tertawa kecil, “Masih perlu ditanya ya? Hahaha ”  Akhitnya seisi gang Ambrose pun bergabung dalam perbincangan kedua cewek tersebut

Sedang Novan dan Ambrose mengadu kemampuan bermusik mereka, Katarina dan Herta mendiskusikan tugas sekolah mereka, Lukas pun bengong dan bingung tentang hal apa yang seharusnya dilakukan. Akhirnya ia menonton pertunjukan gigi antar Ambrose dan Renovan. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik dengan musik yang dimainkan mereka, namun daripada duduk bersama kedua cewek tersebut, ya apa boleh buat. Akhirnya iapun mendengar aliran musik Progresive yang sangat asing baginya.

“Oi, maen laguny Blink 182 donk!” Minta Lukas

“Apaan tuh ?” Tanya Novan polos

“Ya ampun loe gatau?” Tanya Lukas sedikit mengejek

Renovan hanya geleng-geleng.

Ambrose akhirnya memainkan sepenggal bagian dari lagu yang diminta Lukas, meskipun tidak sepenuhnya benar, namun cukup membuat Lukas puas terhadap kemampuan bermain Ambrose. Suara langkah kaki yang saling menutup satu sama lain terdengar dengan keras di tangga. Pertanda bahwa waktu istirahat telah selesai. Merekapun berpisah dan kembali masuk ke kelas masing-masing sebelum para guru mendahului mereka masuk ke dalam kelas. Sejenak sebelum Mrs. Maia masuk (Guru perempuan yang dianggap terbawel dan terewel oleh Ambrose), Ambrose membuka file miliknya dan menyembunyikan sebagian dokumen dari file tersebut. Namun pada akhirnya, saat Mrs. Maia telah siap mengajar, Ambrose mengembalikan dokumen tersebut, dan mengakibatkan Mrs. Maia sangat kesal. Ambrose sedikit merasa bersalah. Namun rasa itu ditepisnya jauh-jauh ketika mengingat kekesalannya pada guru tersebut selama ini.

Ambrose memang cowok yang sedikit nyentrik, dia lebih suka untuk memilih hal-hal yang orang-orang tidak pilih, alias berbeda dari yang lain, meskipun terkadang hal itu merupakan hal yang bodoh ! Di tempat kursus tersebut, Mr. Gawa adalah guru yang sudah dicap paling bodoh dan menyebalkan oleh sebagian besar murid, bahkan hampir seluruhnya. Sejujurnya, Ambrose juga cukup kelas dengannya, namun Ambrose masih lebih memilih diajar Mr. Gawa daripada guru yang satu ini !! Secara logis, Mr. Gawa memang terlalu santai sebagai guru, namun Ambrose cukup bersahabat baik dengannya, terutama karena selera musik mereka dan kecintaan Ambrose terhadap games buatan guru metal tersebut. Sepertinya, hanya dalam hal ini pikiran Ambrose dan Katarina berbeda. Mereka selalu sejalan pikiran dalam berbagai hal, terkecuali yang menyangkut gender tentunya………………

Karena hari ini kelas Ambrose membuat banyak kerusuhan, terutama disebabkan oleh Ambrose sendiri, maka kelas tersebut pun pulang lebih malam karena pelajaran yang diberikan belum selesai. Ya, Mrs. Maia menguji kemampuan speaking para muridnya dengan mood yang sangat buruk, hanya karena AMBROSE !! Ambrose yang seharusnya disalahkan itu melakukan ujian percakapan dengan tenang didepan guru yang telah diusilinya itu, TANPA MERASA BERSALAH !! Herta yang mendengar kejadian tersebut dari Katarina cukup kaget, mengira cowok seperti Ambrose bisa berbuat seperti itu. Karena di sekolahnya pun, Ambrose bukan merupakan murid usil yang merusuh secara aktif, paling dia hanya mendukung pasukan perusuh di garis depan, dan bertindak sebagai backup. Merekapun meninggalkan gedung tersebut dengan meninggalkan beberapa perbuatan gila, antara lain memalsukan tanda tangan Lukas sebagai Manajemen di buletin kursus, membuat jawaban iseng dan menghabiskan kertas jawaban terhadap kuis bulanan, dan mencoret nama Ambrose maupun Lukas dari daftar ulang tahun.

Ambrose pulang dengan perasaan puas hari itu, dia akan menyelesaikan lagu instrumental karangannya yang pertama, karena konsep baru sudah menumpuk karena kejadian-kejadian hari itu. Makan malam pun dilewatkannya hanya demi menyelesaikan lagu karangannya. Dia bahkan tidak me-sms Herta dan Katarina seperti biasanya. Dia pun pusing menunggu esok hari, dimana ia harus mengambil keputusan tentang masa depannya di SMA, dan juga merupakan hari ulang tahunnya yang ke-15. Besok merupakan hari libur, dan Ambrose yakin bahwa akan sedikit dari temannya yang akan mengingat tanggal ulang tahunnya.

Namun tidak penting, pikirnya…

Yang penting adalah dia masih menyadari berharganya hidup ini dan bersyukur kepada Tuhan, sambil berpikir tentang orang-orang yang ingin mengakhiri hidupnya dan mereka yang mengganggap hidup tidak berharga, sama seperti kepribadian Herta yang telah meremukkan hatinya. Namun itu semua telah dilupakannya sekarang, ia telah menjadi teman baik Herta dan telah menaruh harapan pada seorang gadis lain.

MAIN, MAIN, MAIN

Malamnya Herta telah membuat jadwal dengan teman-temannya untuk bermain secara online di internet, termasuk dengan Ambrose dan kawan-kawannya. Sungguh malam yang melelahkan, dan mereka membuatnya semakin melelahkan dengan menguras otak mereka untuk bermain capsa dan permainan-permainan asyik lainnya. Selagi bermain, gosip terus terlempar antara mulut ke mulut, sehingga ruang online tersebut penuh dengan kata-kata, bahkan terkadang mereka lupa terhadap permainan yang mereka jalankan karena terlalu asyik mengobrol !!

Bermain hanya dengan orang yang dikenal sudah menjadi hukum pasti dalam kegiatan online mereka, sebab orang yang tak dikenal pasti akan protes karena mereka kebanyakan berbicara daripada bermain.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam dan Ambrose belum menyelesaikan tugasnya. Selagi menyicil dengan santainya, iapun tetap saja bermain game real time yang berjejer di halaman browser-nya. Mama-nya sudah marah-marah, namun windows chat yang sangat banyak tetap saja nongkrong di desktop komputernya.

Bagi Ambrose, persahabatan mungkin lebih penting dari pelajaran… Meskipun terkadang ia lupa prinsip ini dan sangat sering membuat teman-temannya kecewa. Ambrose juga cowok biasa, yang tidak bisa memecahkan misteri persahabatan, sama seperti manusia dan cowok lainnya.

Di sela-sela kesibukan antara bermain dan bekerja, Ambrose teringat akan seseorang, yang sangat sayang padanya. Ambrose pun berpikir, dahulu ia dengan susah payah mengejar cinta Herta dan berakhir dengan kehancuran, padahal di luar sana ternyata masih ada yang mengharapkan dirinya. Ia menjadi semakin bingung dan takut untuk memperdalam hubungan diatas teman, apalagi ia sudah berkomitmen bahwa persahabatan sangat penting. Ia pun dahulu pernah mengatakan kalimat yang membuat temannya tertawa. “Kalo loe jadian, berarti loe kehilangan satu temen donk. Sayang banget kalo sebuah bintang di langit kehidupan kita ilang”  tentu saja teman-temannya menertawakan kalimat itu. Merekapun berpikir, dan ada pula yang menuangkannya pada kalimat balasan “Oi, kena virus apa loe? Plauboy kaya loe bisa lebih mentingin temen daripada pacar. Haha kocak loe”

Mikae, teman baikknya yang bisa dibilang sesama playboy, juga berkata “Pacar tuh bukan bintang biasa, kalo loe jadian, berarti bintang kecil di kehidupan loe tuh berubah menjadi matahari yang lebih dari 100X atau bahkan lebih berharga daripada bintang biasa! HAHAHA ”

Kalimat itu memang diucapkan Ambrose setelah  ia kehilangan pacar keduanya yang sangat sayang padanya. Hubungan mereka putus hanya karena salah paham kecil. Namun sayang, jiwa playboy Ambrose menarik dirinya pada perempuan lain saat ia ingin meminta balikan dengan cewek yang sangat disayanginya itu. Dan pada kenyataannya, Ambrose memang menderita bersama pacar ketiganya itu, demikian juga dengan pacar keempatnya, dan sampai sekarang, ia sudah tidak mau berpacaran karena kapok dipermainkan oleh kedua perempuan tersebut. Padahal ia telah menaruh kepercayaan yang sangat besar pada setiap perempuan yang menjadi pacarnya, mengingat bahwa pacar pertama dan keduanya sangat tulus sayang padanya. Namun tak disangka, pacar ketiga dan keempatnya sedemikian kacau pikiran maupun wataknya, mereka bahkan sempat membuat kasus yang mempermalukan nama sekolah, serta menyeret Ambrose ke pertikaian antar adik dan kakak kelas karena ulah mereka. Karena itu Ambrose pun ragu dengan gadis yang mengharapkan dirinya saat ini. Karena gadis tersebut tidak berstatus beda dengan kedua cewek kejam tersebut, sama-sama adik kelas yang satu sekolah dengan dirinya. Namun demikian Ambrose cukup bingung, kriteria pasangannya adalah cewek yang seiman, bisa bermain musik, tegas, dan berbadan pendek. Semua kriteria tersebut sudah ada di pribadi cewek baru tersebut, hanya saja Ambrose kurang menyukainya karena sifatnya yang tomboy dan ekspresi mukanya yang terkadang jelek. Masalahnya, dia juga merupakan anggota Putra Altar di gereja, dan ia pernah mendapat petunjuk dari Tuhan, bahwa pasangannya adalah cewek yang berasal dari gereja yang sama, dan akan sering bertemu di gereja tersebut. 4 kali Ambrose ke gereja dalam sebulan, dan dalam 4 kali misa, minimal Ambrose pasti bertemu dengannya 2 kali atau bahkan 4 kali, entah saat ia bertugas menjadi Putra-Putri Altar atau sekedar mengikuti misa biasa. Daripada memikirkan hal-hal bodoh tersebut, Ambrose akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja dan bermain, semenjak jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, dan teman-teman seperjuangannya sudah offline dan bahkan sudah ada yang berangkat ke negeri mimpi.

Ambrose membuka hapenya dan tidak ada SMS yang masuk. Ya tentu saja, ini sudah malam !! Hanya saja bagi Ambrose ini masih seperti pagi, dan ia tidak akan berhenti mengganggap ini pagi sampai tugas karangannya selesai. Hal yang mengejutkan terjadi, Herta tiba-tiba kembali online. Rupanya Herta online lewat ponsel. Ambrose tidak jadi terkejut, karena ia sudah hafal kelakuan Herta setiap malam. Ia bersama para “Ratu Jemputan” memang sudah terlatih untuk hanya tidur 4 jam sekali, setengah dari waktu yang dibutuhkan oleh orang dewasa normal untuk beristirahat. Meskipun pada nyatanya sekarang ini banyak orang hanya bisa beristirahat sekana 6 atau 7 jam sehari. Ya, sekarang dunia semakin disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang tidak penting, yang ditunjang oleh sarana-sarana yang tidak penting pula.

HIDUP

Rasanya semakin aneh dimata Herta, ia bersama dengan teman-teman sekolahnya sangat panik, diliputi rasa takut karena tidak yakin akan bisa memasuki SMA lanjutan dari sekolah mereka. Sedang Ambrose yang telah diterima di salah satu SMP ‘Top 5’ di Jakarta, malah kebingungan apakah ia akan memasuki sekolah tersebut atau melanjutkan di sekolahnya saat ini, padahal batas waktu pembayaran sekolah favorit tersebut adalah besok! Lebih dari 250 orang mengikuti tes masuk sekolah tersebut, dan hanya 50 orang yang diterima masuk, salah satunya adalah Ambrose. Teman-teman terbaiknya tidak ada yang lolos, hanya seorang saja dari sekolah yang sama yang menemaninya lolos dari pintu yang tangguh itu. Banyak orang ingin masuk ke sana, tapi Ambrose malah akan membuang kesempatan yang telah didapatnya itu.

Namun demikian, satu pilihan kecil ini akan mempengaruhi hidupnya sampai dewasa nanti. Ia akan menunggu sampai detik terakhir hari ini, untuk mendapat keputusan terakhir dan melihat apakah akan ada yang mengucapkan ucapan ulang tahun padanya di detik pertama hari berikutnya, ya, dia akan sangat menghargai orang tersebut. Namun prediksinya, hanya Tuhan lah yang akan melakukannya, karena siswa normal pasti sudah terlelap karena besok harus sekolah, kecuali mereka yang tidak mau sekolah atau akan bangun jam 12 hanya untuk mengucapkan selamat pada Ambrose. Ambrose akan men-cap bodoh orang seperti itu, meskipun mereka sudah rela bangun hanya untuk mengucapkan ucapan ulang tahun untuk seorang cowok aneh, ya cowok yang sangat aneh !!

Tugas miliknya hampir selesai, dan ayahnya baru saja pulang dari dokter gigi. Kedua pembantunya telah terlelap sehingga ia harus membangunkan mereka untuk membukakan pintu bagi sang ayah tercinta yang langsung menanyakan kado untuk esok hari. Jawaban Ambrose setiap tahun selalu sama, “Ntar rayain bareng temen-temen aja, haha”.

Ya, bahkan ia ingin moment persahabatan setiap hari ulang tahunnya, sayangnya ia selalu telat merayakan ulang tahunnya karena setiap ia berulang tahun, pasti sedang dilaksanakan ujian, sehingga ia harus menunggu sampai ujian selesai untuk melakukan kegiatan yang sangat disenanginya itu.

BAYANGAN

Itu terus mengikuti Ambrose, yang merupakan bayangan dari tubuhnya sendiri. Itulah bayangan, tak terpisahkan, setia pada tuannya, dan menghilang tanpa cahaya. Mereka selalu mengikuti apapun yang dilakukan tuannya, meskipun itu buruk ataupun baik. Mereka tak dapat dimusnahkan. Selama ada cahaya diatasmu, pasti ada mereka. Ambrose mulai berpikir bahwa bayangan mungkin bisa menggantikan posisi persahabatan di dalam prioritas hidupnya, pikiran yang konyol dan membuatnya tertawa saat itu juga. Dia pun mencoba mengejar bayangannya dengan berbagai cara, namun tentu saja gagal, dan tak mungkin bisa terjadi. Ambrose merenungkan dunia ini, terlalu banyak hal yang tak bisa dilakukan daripada dilakukan. Kau tidak bisa mati lebih dari sekali, tidak bisa lahir dua kali, dan tidak bisa berumur 1 hari 1 jam 1 menit lebih dari sekali. Terlalu banyak hal-hal bodoh yang tak bisa dilakukan di dunia ini untuk disebutkan. Selain itu, kalian pun tak dapat melakukan hal yang sama persis lebih dari sekali dalam hidup kalian. Kalian tidak bisa makan saat tanggal 25 November 1991 pukul 12 lebih dari sekali, iya bukan? Sepertinya otak Ambrose menjadi penuh dengan hal-hal bodoh tersebut, berhubung sistem pemikirannya sudah kacau balau. Ia pun berpikir, hari seperti ini pun tidak mungkin terulang sama persis di dalam hidupnya, karena itu ia akan mengenangkannya dalam bentuk karangan yang telah diselesaikannya. Sungguh kreatif, ia memuji dirinya sendiri. Memanfaatkan tugas yang diberikan untuk menjadi buku diari yang tak pernah dikenalnya selama hidup.

Ambrose akhirnya menggosok giginya untuk bersiap-siap tidur. Semoga ia masih bertahan sampai detik terakhir hari ini berlangsung. Ia menjadi tidak sabar untuk menunggu hari esok, esok, dan esok. Dia sangat ingin bertanya banyak hal kepada Tuhan kelak saat ia kembali ke rumah abadi. Misteri persahabatan, kuasa waktu, rahasia bayangan, dan hal-hal lain yang hanya diketahui yang Maha Kuasa. Termasuk juga alasan Dinosaurus punah, pertanyaan yang masih menarik bagi anak-anak sampai dewasa. Dari kecil, Ambrose telah menyusun daftar pertanyaan untuk mewawancarai Tuhan kelak, entah apakah ia masih menyimpan daftar tersebut saat bertemu Tuhan kelak, tidak ada yang tahu.

Cukup sudah pemikirannya tentang semua misteri hidup ini, Ambrose memandangi bayangannya sendiri…

Dan kembali mengejar bayangan tersebut seraya anak kecil bermain dengan anak kucing.

Ambrose terus mengejar dan mengejar, sampai akhirnya ia tiba di terminal untuk berangkat ke negeri mimpi, yang disebut kamar tidur pada umumnya. Ambrose akhirnya kehilangan bayangannya saat tiduran di ranjang tersebut. Padahal saat itu, ia sangat ingin menanyakan rahasia bayangan agar setia pada pasangannya, tabah jika diinjak-injak, dan kekal selama ada cahaya. Mungkin suatu hari nanti, saat pikirannya sudah jernih, ia akan mendapatkan semua jawabannya…

TAMAT