Mmmmm ?

Menyikapi kebijakan baru pemerintah Indonesia tentang plastik berbayar 🙂

 

Melodi dari angin musim semi,

Empati bumi yang tak tertandingi.

Ritme ombak yang memecah sunyi,

Yang membuat orang bangkit berdiri.

Lihatlah, rembulan yang selalu terang lagi dan lagi.

 

Manusia tak pernah menyadari,

Emas kehidupan yang mereka miliki.

Laut murni dengan segala isi,

Indah cakrawala pembatas langit dan bumi,

Angin segar sumber energi diri.

Nistalah bagi yang tak peduli,

Tuhan yang akan mengadili.

Hidupilah bumi dengan cinta sejati,

Andai tak ada tempat lagi.

 

20160223_154404_HDR

Advertisements

Sederhana tapi mumet : Pola Pikir Kerajaan Allah

Jumat lalu saya dikejutkan dengan pembicaraan yang berujung sedikit panas karena sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang kawan koleris saya : “Apa sih pola pikir kerajaan Allah itu”?.

Tanpa pikir panjang lidah dan bibir saya langsung bergelut untuk ngerocos, tetapi hati saya rendah, menyadari bahwa ada otoritas yang lebih tinggi dan lebih layak untuk menjawab. Penjelasan panjang lebar pun mulai diberikan dan hasilnya adalah ‘TIDAK MENGERTI’ dari pihak penanya.

Ketika saya mau mencoba menjelaskan dengan bahasa duniawi dan istilah sederhana, saya diserobot oleh otoritas lain yang tidak kalah luar biasanya dalam menjabarkan istilah2 kerohanian. Namun sekali lagi : Penyanya tidak mengerti.

Diskusi dalam komsel hari itu akhirnya berujung pada kekecewaan sebagian orang, termasuk saya. Di satu sisi saya kecewa terhadap penanya. Apakah dia hanya menguji sesamanya? Mengapa melontarkan pertanyaan seperti itu dengan nada yang keras? Mengapa tidak mendapatkan pemahaman dr penjelasan yg demikian panjang?

Dan juga kecewa dengan penjawab-penjawab yang seharusnya lebih paham daripada saya, namun gagal dalam menjelaskan konsep POLA PIKIR KERAJAAN ALLAH TERSEBUT. Dalam tulisan ini saya akan mencoba menjabarkan apa yang saya ketahui tentang jawaban dr pertanyaan diatas, sekaligus membayar hutang karena tidak berbicara saat itu.

Sebelum melanjutkan, baiklah diingat bahwa saya juga bukan Allah sendiri yang bisa menjawab tepat 100%, jawaban saya tidaklah abstrak namun juga tidak radikal. Saya akan menulis jawaban secara moderat, sehingga pembaca bisa mendapatkan fondasi dan melanjutkan jawabannya sendiri.

Penjelasan saya mulai dengan definisi dari ‘Kerajaan Allah’
Apa sih Kerajaan Allah itu? Tenang, anda tidak usah susah2 berpikir, saya bukan orang yg malah bertanya balik sebagai respon terhadap pertanyaan.

Bagi kebanyakan orang, mereka menggambarkan Kerajaan Allah sebagai suatu tempat/lokasi dimana Allah mendirikan istananya dengan segala bala tentara surgawi, dimana kita bisa hidup indah seperti fantasi anak kecil disana. Definisi ini sesungguhnya salah. Apabila anda mendalami dunia teologi dan sudah membaca habis perjanjian baru, Kerajaan Allah adalah SUATU FONDASI dari pengajaran Yesus. Ini seperti fundamental bagi apa yang dilakukan Yesus selama dia hidup (ekuivalen dengan UUD untuk Indonesia). Yesus sendiri melihat kerajaan Allah sebagai suatu KONDISI yang ia cita-citakan sebagai buah dari pengajarannya.

—-Sesi ini belum sempurna karena ada kehilangan referensi, anda bisa membantu melengkapi sesi ini—
Bagi anda yang mendalami teologi Alkitab, tentu tahu bahwa kelompok Farisi, Saduki, Herodian, Eseni, Masoret masing-masing mempunyai ‘konsep’ tersendiri dalam pergerakannya baik di bidang politik maupun agama. Ambil contoh salah satu kelompok diatas menganut pandangan apokaliptik (saya tidak hafal pencocokannya yang mana) dan kelompok lainnya ada yang menganut konsep bahwa untuk mengikuti Allah secara sungguh2 maka setiap pria harus dikebiri. Ini fakta benar dan anda bisa membuktikannya sendiri dengan cara bertanya dengan sarjana teologi (jangan saya!). Tapi yang mau saya tekankan disini adalah, Yesus pernah dipertanyakan dasar pergerakannya oleh orang-orang Farisi. Tidak jelas referensinya kitab apa atau ini sekedar interpretasi orang beriman, namun jawaban Yesus ketika mendengar pertanyaan itu adalah : “Saya bergerak dengan konsep kerajaan Allah” berbeda dengan konsep2 lain yang sudah ada saat itu.
—-Sesi diatas belum sempurna karena ada kehilangan referensi, anda bisa membantu melengkapi sesi ini—

Sampai sini anda boleh agree atau disagree dengan saya mengenai definisi kerajaan Allah. Setiap manusia punya interpretasi lain tentang setiap hal, terutama dalam hal agama. Jika anda punya definisi lain, simpanlah dahulu karena kesimpulan dari jawaban saya ini pasti berujung sama apapun definisi anda tentang kerajaan Allah.

Lalu dilanjutkan dengan definisi POLA PIKIR. Tidak ada definisi mutlak terhadap frasa ini, jadi mari kita jabarkan satu-satu.

Definisi Pola menurut kamus besar bahasa Indonesia :

po.la
[n] (1) gambar yg dipakai untuk contoh batik; (2) corak batik atau tenun; ragi atau suri; (3) potongan kertas yg dipakai sbg contoh dl membuat baju dsb; model; (4) sistem; cara kerja: — permainan; — pemerintahan; (5) bentuk (struktur) yg tetap: — kalimat: dl puisi, — adalah bentuk sajak yg dinyatakan dng bunyi, gerak kata, atau arti

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/pola#ixzz2JLfjDhkt

Mari lihat definisi yang saya tulis tebal. Pola adalah cara kerja (4) dalam struktur yang konstan (5). Singkatnya saya menyumpulkan pola adalah suatu konsistensi dalam melakukan sesuatu.

Berikutnya adalah definisi dari PIKIR(an)

pi.kir
[n] (1) akal budi; ingatan; angan-angan: ahli — , ahli falsafah; filsuf

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/Pikir#ixzz2JLgnmQC4

pi.kir.an
[n] (1) hasil berpikir (memikirkan): ia pandai menangkap ~ dan perasaan orang lain; (2) akal; ingatan; (3) akal (dl arti daya upaya): mendapat ~; (4) angan-angan; gagasan: ~ baru; (5) niat; maksud: tidak ada ~ akan berhenti bersekolah

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/pikiran#ixzz2JLguaXiA

Pikir atau pikiran bisa kita simpulkan sebagai akal budi (dimana orang Kristen percaya sebagai karunia bagi manusia yang tidak didapat makhluk hidup lain) dan hasil dari akal budi tersebut (poin 1 dari definisi kedua). Pikiran adalah sesuatu yang didapat (poin 4 definisi kedua).

Sekarang saya berikan kebebasan bagi pembaca untuk mengambil kesimpulan dari definisi POLA PIKIR. bagi saya sendiri,
Pola Pikir adalah hasil dari akal budi anda yang menghasilkan sesuatu dalam konsistensi terhadap sesuatu. Jadi, jika digabungkan dengan kerajaan Allah, definisinya sedikit lebih panjang menjadi

Pola Pikir Kerajaan Allah adalah hasil dari akal budi anda yang menghasilkan sesuatu dalam konsistensi terhadap terwujudnya kondisi yang diinginkan Allah untuk terjadi melalui pewartaan Yesus Tuhan.

Saya kira satu kalimat definisi (yang cukup panjang) diatas sudah cukup untuk menggambarkan keseluruhan konsep kerajaan Allah. Namun bagi anda yg berpikir kritis, atau koleris seperti teman saya yang sudah disinggung diatas, tentunya akan menyerang saya dengan pertanyaan : “Lalu penerapannya dalam realitas bagaimana”

Penerapannya dalam realitas sebenarnya sama seperti judul tulisan ini : Sederhana tapi mumet. Saya bukan berusaha membuat kontradiksi dalam menjawab pertanyaan ini, tapi memang karena pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara sempurna dan mutlak seperti menjawab “Apakah kamu di rumah” Yang jawabannya “ya” atau “tidak”. Pertanyaan ini selevel dengan pertanyaan “Kamu perempuan atau laki-laki” dilontarkan di Thailand.

Namun bagaimanapun tidak adil apabila saya tidak menjawabnya. Jadi secara singkat, ini adalah format Q dan A yang saya jabarkan ulang :

Q : Bagaimana penerapan pola pikir kerajaan Allah dalam realitas kehidupan?
A : Setiap waktu hendak berbuat sesuatu (yang merupakan buah dari akal budi) tanyakan kembali pada OTAK (bukan hati) anda “Apakah perbuatan saya ini, apabila dilakukan dengan cara ini, akan menyumbang kontribusi bagi berkembangnya (kondisi) kerajaan Allah?”

Simple bukan? Jawabannya sederhana seperti diatas, namun menjadi mumet karena setiap orang punya pola pergerakannya sendiri dalam berpikir, akibatnya satu orang bisa berpikir bahwa orang lain salah dalam menerapkan Pola Pikir Kerajaan Allah, meskipun mereka sebenarnya berpikir dalam satu fondasi yang sama.

Q : Kenapa harus otak? Kenapa tidak hati?
A : Baca kembali definisi pola pikir diatas. Realitas kehidupan bicara tentang praktik iman dan bukan isi hati. Hati ambil andil dalam setiap keputusan kita (suara hati, rasa guilty) namun pikiran tetap buah dari otak.

Q : Saya tidak mengerti semua isi tulisan anda ini.
A : Saya sarankan anda untuk : 1) berdoa ; atau 2) mengambil atau mengulang pelajaran bahasa Indonesia sekolah dasar ; atau 3) pukul komputer / laptop anda dengan linggis.

Akhirnya saya menutup tulisan ini dengan menegaskan bahwa pembaca diperbolehkan menginterpretasikan Pola Pikir Kerajaan Allah sendiri-sendiri. Saya hanya bisa membantu dan bukan Tuhan sendiri yang pasti benar, ataupun Hakim Agung yang berhak bilang benar atau salah. Saya hanya berusaha membantu, dan apabila bagi anda tidak membantu… Ya sudah, tidak apa-apa. Toh saya juga tidak dibayar 😀

Sekian, GBU.