Mmmmm ?

Menyikapi kebijakan baru pemerintah Indonesia tentang plastik berbayar 🙂

 

Melodi dari angin musim semi,

Empati bumi yang tak tertandingi.

Ritme ombak yang memecah sunyi,

Yang membuat orang bangkit berdiri.

Lihatlah, rembulan yang selalu terang lagi dan lagi.

 

Manusia tak pernah menyadari,

Emas kehidupan yang mereka miliki.

Laut murni dengan segala isi,

Indah cakrawala pembatas langit dan bumi,

Angin segar sumber energi diri.

Nistalah bagi yang tak peduli,

Tuhan yang akan mengadili.

Hidupilah bumi dengan cinta sejati,

Andai tak ada tempat lagi.

 

20160223_154404_HDR

Second part of the duo

 

H iruk pikuk kota metropolitan

A ngkasa penuh debu dan kotoran

N ama nama di papan iklan

D iam serasa tak berpengalaman

R amalan ramalan tak pernah mempan

I nikah kota yang megah dan menawan?

E nggan aku menyebutnya kemerdekaan

 

S enapan senapan yang berserakan

U ntuk apa lah dikorbankan?

T ak  adakah jalan yang tak berbeban?

A pa mungkin dengan bermesraan?

N ama – nama perlu kita jabarkan

T erapkan peraturan dan keadilan

O rang – orang sudah rindu kedamaian

10685504_10205063207285748_6535273566926796746_n

Back for Something Good

This poetry breaks the record – requiring over a month to finish it. I never thought I couldn’t finish it in time. It just needs to be revised over and over. Originally targeted for 6th of July, it should’ve been finished by 4th of June because I forgot her birthday! 😦 Anyway, sorry for disappointing: while i’ve been writing English all along, the poetry itself is Indonesian – HEHEHE.

C erita manusia mungkin beragam

Y ang senang, sedih, sampai geram

N amun kisah kita tentu lebih dalam

T apak hidup yang bersama kita sulam

H endaknya terabadikan seperti suara alam

I ndah dan takkan pernah tenggelam

A badi bagai surya tak kenal kelam

T eman teman kita bagai kawanan lebah madu

H idup kita penuh nada nada merdu

E ntah ini nasib atau karna bersamamu

N ampaknya peduli tidaklah perlu

D engan puisi kucoba lukis tapak kita

E nggan tinta bicara, tiada kata yang setara

A badinya hanya sebuah kata

N amamu, hanya sebuah nama

Kembali Menulis

Malam minggu ku sendiri
Ibarat pesta tanpa penari
Caci maki bagai duri duri
Hempasan angin tiada berdiri
Emas perak tak lagi menarik hati
Lelah hati lebih dihayati
Lampu dansa tak lagi berarti
Empat mata yang kucari

Lalu engkau muncul dari khayangan
Orang bilang kau hanya bayangan
Visualmu nampak tak kelihatan
Enggankah mataku merealisasikan?
Namamu seakan tertulis di bulan
Indah bagai karya tulisan
Apakah ini kenyataan?

Lalu kau datang padaku
Untuk menghibur dengan senandungmu
Karyamu indah dan terdengar merdu
Merdu bagai senandung tak berdebu
Alangkah indah menjalani waktu
Namamu kan selalu di hatiku

Jiwa Bahagia, Alas dari Kesempurnaan

L agu lagu bersenandung merdu,

I nti melodi pun ikut bernyanyi.

C erita kita memang berharga,

I barat perahu yang terus berlaju

A ntar benua dan dunia.

Y ang tertawa bahagia

U ntuk perasaan yang tak tertahan,

R emukkan gangguan yang tak terpisahkan.

I nilah karya kita bersama

K arya yang tercipta atas jiwa bahagia
A las impian dan kesempurnaan

Another Debt Paid on Time

N orma norma dunia mulai menggila
I katan batin rasanya menjadi hampa
K enapa manusia tak lagi berjaya
I man dan agama tak lagi berharga
T api tahta menjadi lebih bermakna
A pa yang merusak manusia?

P utra putra bangsa haus akan harta
U pah upah kerja jadi makin fana
S iapa yang harus disalahkan?
P utri putri Negara tak lagi berjaga-jaga
I ndah negara bukan lagi dambaan
T iada lagi nampaknya harapan
A pa daya seorang sendirian

T api ada yang bertahan
H ampasan dosa tak pernah mempan
E mpat dirubahnya menjadi delapan
O rang-orang itu punya kekuatan
D i hatinya tertanam setiap firman
O rang yang terpilih membawa kebenaran

R ana derita tak lagi jadi beban
A dilkan dunia dengan kedamaian