8 Years and Counting

 

Variabel variabel yang berceceran,

Entah memberi makna apa dalam keseharian.

Raut raut wajah yang bertebaran,

Orang orang pun tak lagi menghiraukan.

Nama nama yang masuk Kitab Kehidupan,

Ibarat sekedar karangan dan bualan.

Kapan kabar baik akan diberitakan?

Apakah yang berkuasa masih mendengarkan?

 

Jika tak lagi bisa memberi

Upaya apa yang masih berarti?

Dimana sumber tawa telah dicuri,

Ilmu pengetahuan telah berkembang sendiri,

Tapak karir sudah terlampaui,

Hari hari pun terasa sepi.

 

Coba kuberi sebuah karya,

Yang mungkin tak ada harganya.

Namun semoga ini memberi suatu makna,

Tentang kehidupan kita yang fana.

Hari hari kita semakin menjadi dewasa,

Isi hati kita mungkin semakin berbeda,

Apapun jalan pilihan, janganlah pernah lupa:

 

Ayat ayat yang tertulis takkan pernah berubah,

Doa doa yang terucap pasti punya faefah,

Emas yang penting dan sedap dipandang,

Lambat laun nilainya pun akan hilang.

Iman dan tradisi janganlah digadaikan:

Nilai yang abadi hanya ada di dalam hati.

Entah apakah didengarkan, yang penting tersampaikan!

Cerita Kita

Cerita memang ada akhirnya

Indah atau sedih, tak bisa terteka

Nama nama tokoh hadir dan pergi

Dalam dimensi sang penata kata

Yang tak pernah menjadi nyata
Apa yang penting adalah kita

Ribuan penonton penatap cerita

Yang mencari pesan dan makna

Apa yang penting adalah kita

Nama nama yang kekal abadi

Indah tertulis dalam Kitab Kehidupan

Tak Tahu Diri

Apa ada yang mendengarmu malah menurut?

Namamu membuat telingaku muntah bak mulut

Dimana ada kamu, ada diriku yang sakit perut

Rasa rasanya, rambutmu mirip es serut

Edan memang, karena muka kamu penuh kerut

 

Hancur sudah kebahagiaan bumi

Anak anak menangis dihadapanmu

Rimba hutan serempak berhenti

Tapi tenang, aku masih kuat menghadapimu

Orang orang mungkin sudah lari

Namun aku siap memberi pelajaran bagimu,

Orang yang tak tahu diri

Mungkin Aku Tak Berarti, Tapi…

Validasi mungkin bisa salah
Asumsi mungkin tak selalu benar
Namun iman hendak berdiri gagah
Ibarat baja yang tak bisa terbakar
Aku duduk disini berusaha memahami

Seperti apa cerminan malaikat di bumi
Tahta raja mana yang berdiri abadi
Entah memang ada atau selamanya misteri
Lalu tiba-tiba aku menyadari
Lupakanlah semua hal-hal tanpa arti
Ada dirimu yang abadi di hati

DSC_3608

 

 

First Part of the Duo

S elalu dua yang bertentangan

A da yang melawan dan sekawan

M emisahkan lingkaran jadi dua belahan

U ntuk tujuan yang kita dambakan?

E nngan aku menyebutnya persatuan

L angkah kaki gabut masih tak kartuan

 

S atu orang terdiam ketika yang lain berjalan

A turan – aturan berasal dari kiri maupun kanan

P ermainan apa yang sedang dijalankan?

U mpan berupa uang senantiasa bertebaran

T api yang cerdas takkan kena mempan

R evolusi takkan lagi terabaikan

A nda ikut atau tinggal tanpa kemajuan

10593186_10154051676861515_6872290064302698828_n

 

 

Second part of the duo

 

H iruk pikuk kota metropolitan

A ngkasa penuh debu dan kotoran

N ama nama di papan iklan

D iam serasa tak berpengalaman

R amalan ramalan tak pernah mempan

I nikah kota yang megah dan menawan?

E nggan aku menyebutnya kemerdekaan

 

S enapan senapan yang berserakan

U ntuk apa lah dikorbankan?

T ak  adakah jalan yang tak berbeban?

A pa mungkin dengan bermesraan?

N ama – nama perlu kita jabarkan

T erapkan peraturan dan keadilan

O rang – orang sudah rindu kedamaian

10685504_10205063207285748_6535273566926796746_n