Mmmmm ?

Menyikapi kebijakan baru pemerintah Indonesia tentang plastik berbayar 🙂

 

Melodi dari angin musim semi,

Empati bumi yang tak tertandingi.

Ritme ombak yang memecah sunyi,

Yang membuat orang bangkit berdiri.

Lihatlah, rembulan yang selalu terang lagi dan lagi.

 

Manusia tak pernah menyadari,

Emas kehidupan yang mereka miliki.

Laut murni dengan segala isi,

Indah cakrawala pembatas langit dan bumi,

Angin segar sumber energi diri.

Nistalah bagi yang tak peduli,

Tuhan yang akan mengadili.

Hidupilah bumi dengan cinta sejati,

Andai tak ada tempat lagi.

 

20160223_154404_HDR

First Part of the Duo

S elalu dua yang bertentangan

A da yang melawan dan sekawan

M emisahkan lingkaran jadi dua belahan

U ntuk tujuan yang kita dambakan?

E nngan aku menyebutnya persatuan

L angkah kaki gabut masih tak kartuan

 

S atu orang terdiam ketika yang lain berjalan

A turan – aturan berasal dari kiri maupun kanan

P ermainan apa yang sedang dijalankan?

U mpan berupa uang senantiasa bertebaran

T api yang cerdas takkan kena mempan

R evolusi takkan lagi terabaikan

A nda ikut atau tinggal tanpa kemajuan

10593186_10154051676861515_6872290064302698828_n

 

 

Second part of the duo

 

H iruk pikuk kota metropolitan

A ngkasa penuh debu dan kotoran

N ama nama di papan iklan

D iam serasa tak berpengalaman

R amalan ramalan tak pernah mempan

I nikah kota yang megah dan menawan?

E nggan aku menyebutnya kemerdekaan

 

S enapan senapan yang berserakan

U ntuk apa lah dikorbankan?

T ak  adakah jalan yang tak berbeban?

A pa mungkin dengan bermesraan?

N ama – nama perlu kita jabarkan

T erapkan peraturan dan keadilan

O rang – orang sudah rindu kedamaian

10685504_10205063207285748_6535273566926796746_n

Muda dan Berjaya

Komputer bertambah cerdas setiap harinya
Enam milyar data sudah tak ada artinya
Virtualisasi menghapus realisasi kita
Inovasi membunuh yang tak bersuara
Nomor nomor semakin panjang tapi tak lagi berharga

Film film tak lagi mensuarakan perubahan
Ilmu pengetahuan tak lagi bicara kebenaran
Lambat laun kita kalah oleh yang kita ciptakan
Manusia harus sadar akan batasan
Ada tingkatan dalam ciptaan Tuhan
Walau kendati demikian
Ada segelintir harapan
Nama nama muda yang penuh dengan pencerahan

Tetaplah berjuang generasi muda
Harapan dunia di pundak kita
Entah kapan kita akan berjaya
Niscaya Tuhan di pihak kita

Back for Something Good

This poetry breaks the record – requiring over a month to finish it. I never thought I couldn’t finish it in time. It just needs to be revised over and over. Originally targeted for 6th of July, it should’ve been finished by 4th of June because I forgot her birthday! 😦 Anyway, sorry for disappointing: while i’ve been writing English all along, the poetry itself is Indonesian – HEHEHE.

C erita manusia mungkin beragam

Y ang senang, sedih, sampai geram

N amun kisah kita tentu lebih dalam

T apak hidup yang bersama kita sulam

H endaknya terabadikan seperti suara alam

I ndah dan takkan pernah tenggelam

A badi bagai surya tak kenal kelam

T eman teman kita bagai kawanan lebah madu

H idup kita penuh nada nada merdu

E ntah ini nasib atau karna bersamamu

N ampaknya peduli tidaklah perlu

D engan puisi kucoba lukis tapak kita

E nggan tinta bicara, tiada kata yang setara

A badinya hanya sebuah kata

N amamu, hanya sebuah nama

Ku Memikirkanmu

Setiap hari aku memikirkanmu

Tidak dalam mimpiku

Tetapi dalam kesadaran penu

Mengingat bagaimana kau meracuniku

Bagaimana kau membunuhku

Ku pikirkan setiap hari Rabu

Bagaimana cara mengumpulkan debu

Debu memori yang penu

Yang kau hancurkan dengan palu

Palu yang diangkat tanpa pelu

Ku pikirkan setiap Sabtu

Bagaimana cara membalasmu

Membalas kebaikan dan keburukanmu

Membalas sang baju biru

Dan pulpen yang mahal itu