Mmmmm ?

Menyikapi kebijakan baru pemerintah Indonesia tentang plastik berbayar 🙂

 

Melodi dari angin musim semi,

Empati bumi yang tak tertandingi.

Ritme ombak yang memecah sunyi,

Yang membuat orang bangkit berdiri.

Lihatlah, rembulan yang selalu terang lagi dan lagi.

 

Manusia tak pernah menyadari,

Emas kehidupan yang mereka miliki.

Laut murni dengan segala isi,

Indah cakrawala pembatas langit dan bumi,

Angin segar sumber energi diri.

Nistalah bagi yang tak peduli,

Tuhan yang akan mengadili.

Hidupilah bumi dengan cinta sejati,

Andai tak ada tempat lagi.

 

20160223_154404_HDR

Advertisements

Kado untuk Tuhan

Kita anak muda Kristiani tak perlu diajari lagi bahwa natal adalah perayaan besar umat Kristiani. Kelahiran Tuhan Yesus? Check. Misa dengan event? Check. Tukeran kado? Check. Tapi pernah ga sih kepikiran kado apa yang paling layak dikasih ke Tuhan Yesus sendiri? Tentunya berat banget mikirin kado apa yang ‘seimbang’ dengan semua yang udah Tuhan kasih ke kita.

Kado yang layak untuk Tuhan sebenarnya hanya satu: bahwa kita simply menerima ‘kado’ pengorbanan Yesus dengan sungguh – sungguh. Tanpa bermaksud kurang ajar,  Mikha 6:7 sendiri menegaskan Tuhan tidak pernah puas, no matter what you have given to him. Menyadari bahwa kita takkan pernah sanggup membalas kado yang sepadan, kita hanya bisa mensyukuri penebusan Yesus atas kita. Namun demikian, mensyukuri bukan berarti diam saja dan ‘stay flat’ dalam iman.

Alkitab sebenarnya mempunyai ‘wishlist’ lengkap Tuhan yang harus kita penuhi. Wishlist tersebut sangat banyak dan secara logika hampir mustahil untuk memenuhi semuanya (misalnya mengorbankan nyawa untuk orang lain.) Namun demikian, kalau dilihat secara holistik, Wishlist Tuhan hanya merujuk pada satu hal : supaya kita “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29).

Wishlist Tuhan, yang dalam kata lain adalah Alkitab sendiri, sebenarnya adalah checklist yang membantu kita untuk semakin mendekati kesempurnaan sesuai dengan gambaranNya, yakni pribadi Yesus sendiri. Ketika kita ditebus oleh Yesus, it simply means kita menjadi milik Tuhan, bukan dosa (dunia) lagi. Bicara tentang kepemilikan, setiap karyawan menjadikan bos-nya sebagai poin rujukan untuk hal yang benar. Sama halnya dengan kita yang harus menjadikan penebus kita sebagai rujukan hidup yang tepat.

Tentunya mustahil untuk tiba-tiba menjadi seperti Yesus di hari natal. Kedagingan kita masih membatasi kemampuan kita untuk menjadi Tuhan, dan Tuhan sendiri tahu tentang ini (Matius 26:41). Tuhan tidak pernah expect kita untuk tiba tiba bertransformasi menjadi nabi atau penyelamat, tapi dia selalu berharap bahwa kita bertumbuh secara konstan di dalamNya (2 Petrus 3:18 ; Yohanes 15:1-5). Konkritnya, kita senantiasa berusaha untuk memenuhi wishlist Tuhan satu per satu seiring perjalanan hidup kita. Natal sendiri diharapkan menjadi yearly reminder tentang objective rohani kita untuk tahun kedepan.

Untuk menutup, penulis ingin mengingatkan bahwa bagaimanapun, kita harus tahu juga ‘wishlist’ Tuhan secara lengkap dari awal sampai akhir, jadi alangkah baiknya bila kita bisa berkomitmen untuk membaca seluruh Alkitab setidaknya sekali seumur hidup. Bukan saja itu menjadi achievement hidup yang layak dibanggakan, namun juga merupakan langkah awal yang sangat baik untuk memberi kado yang layak untuk Tuhan.

For overseas student

Kecewa dengan Jakarta atau Indonesia?

Jangankan manusia, Tuhan aja uda berkali-kali kecewa dengan bangsa (negara) pilihannya.

Bagi yang sudah membaca kitab Raja-Raja 1 dan 2 sampai habis, tentunya tahu bagaimana labil bangsa Israel (dan Yehuda). Kelabilan tersebut juga terpicu oleh pemimpin yang menolak belajar dari pendahulunya (yang taat) sehingga mereka terbawa oleh arus buruk yang membuat seluruh bangsa Israel dan Yehuda jatuh pula.

Sebagai overseas, sering kita labil tentang “pulang” atau “staying” setelah studi. Tidak ada salahnya kita memilih “staying” , kalau memang panggilannya sudah jelas disitu dan siap berdampak untuk bangsa lain.

Namun kalau alasannya karena “lelah” atau “kecewa” dengan kota/Negara asal/tujuan kalian, mungkin boleh dipikir-pikir lagi, karena tentunya itu BUKAN SUARA TUHAN.

Dalam setiap jenjang waktu tertentu, bangkit seorang raja yang membawa Israel (ignore Yehuda dulu demi simplicity penjelasan) kembali ke jalan yang benar. Menggunakan hitungan matematika kasar, rasio antara raja yang ‘sesat’ dan raja yang ‘taat’ mungkin sekitar 1:7.

Artinya, dalam 7 periode Israel (bukan 7 tahun ! 7 periode bisa puluhan tahun tergantung durasi kekuasaan sang raja) terjadi kejadian kejadian regresif terus menerus yang membuat Tuhan geleng geleng kepala. Kejadian regresif ini berlanjut dan disupport oleh generasi raja selanjutnya yang tidak mengikuti jalan Tuhan. Di 2 Raja-Raja 10-21 bisa dilihat bahwa ketika ada raja yang menolak ikut Tuhan, dia mendirikan mezbah berhala. Ketika raja tersebut mati, raja selanjutnya malah membuat bakti pelacuran, dan raja selanjutnya lagi menambah bukit pengorbanan anak, dan seterusnya.

Namun kembali lagi pada matematika awal, dimana ‘roughly’ setiap 7 tahun lalu ada raja yang akhirnya hidup bersih sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan pada saat itu juga terjadi gebrakan gebrakan pembaharuan yang sangat radikal. Satu raja tersebut bisa menghancurkan seluruh hal buruk yang sudah dibangun oleh 7 raja generasi sebelumnya, yang bahkan kadang-kadang merupakan ayah dia sendiri ! (*nb : meskipun tidak selalu. Ada raja yang membersihkan secara tidak tuntas seperti di 2 Raja Raja 18). Raja-raja inipun biasa diberkati Tuhan untuk menduduki kota atau Negara lain dan membenahi Negara yang dijajah tersebut.

Namun inti yang saya mau tekankan untuk kalian semua di grup ini adalah 2 Raja-Raja 22, dimana seorang Raja berumur 8 tahun menjadi turning point maha dahsyat dari seluruh kebobrokan yang sudah bikin Tuhan ‘terserah deh elo mau apa gue uda cape’. Kita bisa melihat bagaimana dia sejak awal memilih untuk hidup dalam Tuhan meskipun kemampuan kognitifnya masih sangat mentah (umur 8 tahun ngerti apa sih?), malah raja-raja sebelumnya yang diangkat takhta saat sudah dewasa menolak untuk ikut Tuhan.

Saya bukan bermaksud menyamakan kalian dengan seorang raja umur 8 tahun secara umur, namun disini kita melihat dua kesamaan yaitu : KECIL (meskipun huruf ini besar hehehe). Kita mungkin sekarang hanyalah seorang manusia kecil yang numpang di Negara atau kota orang untuk belajar. Tapi kalau kita mau menjadi dampak dan berperan sebagai turning point, apakah tidak bisa? Tentu bisa, dengan cara kita minta TUHAN untuk mengangkat kita menjadi ‘RAJA’ supaya bisa membawa dampak bagi ‘rakyat’.

Caranya? Loh ya banyak :

1. Menjadi ‘raja’ nilai dalam suatu pelajaran/kelas

2. Menjadi ‘raja’ yang menggembalakan (read : menjadi pendengar yang baik)

3. Menjadi ‘raja’ ekstrakurikuler

4. Dan lain lain tentunya.

Dan tentunya seiring dengan berjalannya waktu, apabila kita terus mengikuti Tuhan, tentunya ‘takhta kita akan diteguhkan’ – baca : makin berdampak dan hidup kita sendiri makin tercukupi.

So, jangan sampe Setan intimidasi kalian dengan bilang hal-hal bodoh seperti

1. Gausa balik ke Jakarta, uda ga akan bisa beres tuh kota (buktinya sekarang saudara kita Pak Ahok uda mulai kelihatan kan seperti di Kitab Raja-Raja )

2. Gausa tinggal di Australia/Cina/Singapore, lu ga akan bisa apa-apa disana selain jadi orang numpang.

Nah dari sinipun, hadapi panggilan kalian :

1. ‘Serang’ kota/Negara lain dan jadilah raja yang membawa pembaharuan

2. Kembali ke kota kalian dan benahi itu semua!

Apapun pilihan yang kalian pilih, apabila sejalan dengan Tuhan percayalah kalian akan sukses disana!

Cek lebih banyak lagi topik Kristiani : klik disini 

Saya dulu menulis untuk blog Youth saya, lebih banyak lagi tulisan Kristiani disana : DNA Blog that needs to be updated

Bagi anak DNA yang baca ini : kalau kamu suka menulis, tolong pelayanan jadi penulis seperti saya dulu ya 🙂

Aturan Tuhan > Aturan manusia

“Aturan Tuhan lebih penting daripada aturan manusia”
Markus 7 : 1-8

Tiap organisasi (bahkan organisasi paling kecil – keluarga) pasti selalu memiliki peraturan yang mengatur anggota didalamnya.

Supaya efektif, aturan harus selalu up to date dengan condition at hand (situasi yang sedang berlangsung)
Jaman Yesus dulu, orang Farisi mempertahankan tradisi ‘kecil’ yang bukannya membantu orang lain namun malah menyulitkan orang. Padahal aturan dibuat untuk membantu manusia (ketertiban, keamanan) namun oleh orang Farisi, hukum taurat malah membuat serba sulit.

Seperti yang sudah kita tahu sebelumnya bahwa kita harus lebih mengatasi dan menghormati Tuhan diatas manusia, hendaknya kita memprioritaskan kesenangan hati Tuhan ketimbang manusia. Satu-satunya hukum yang ditulis Tuhan di perjanjian baru hanya satu : Hukum Cinta Kasih. Kasih bahkan digambarkan sebagai pribadi Tuhan itu sendiri.
Dengan demikian, cinta kasih > peraturan.

Syair pesisir

awalnya saya mau bwt pantun untuk lomba cleenreef.com , tapi saya lupa kalau pantun itu ritmenya harus A-B-A-B !! Kesimpulannya selama ini saya tak pernah berhasil bikin satu pantun pun karena ritmenya sama semua ! OMG. Jadi ini syair tentu tidak memenuhi syarat perlombaan dan lebih baik dipublikasikan sekarang saja. Pantun aslinya sendiri sudah dikirim dan akan saya publikasikan bila perlombaan telah selesai.

Terlihat di sisi tabir

Bayi kecil telah lahir

Ayo semua kita bersyair

Agar bersih para pesisir

Tetua miskin si fakir

Dengan rajin menancap ajir

Ini bukan sekedar afair

Cintai dan hargai tetes air

Nasib diri selalu terusir

Telah putus harapan tahir

Di detik detik terakhir

Berhargalah tiap-tiap butir