Kado untuk Tuhan

Kita anak muda Kristiani tak perlu diajari lagi bahwa natal adalah perayaan besar umat Kristiani. Kelahiran Tuhan Yesus? Check. Misa dengan event? Check. Tukeran kado? Check. Tapi pernah ga sih kepikiran kado apa yang paling layak dikasih ke Tuhan Yesus sendiri? Tentunya berat banget mikirin kado apa yang ‘seimbang’ dengan semua yang udah Tuhan kasih ke kita.

Kado yang layak untuk Tuhan sebenarnya hanya satu: bahwa kita simply menerima ‘kado’ pengorbanan Yesus dengan sungguh – sungguh. Tanpa bermaksud kurang ajar,  Mikha 6:7 sendiri menegaskan Tuhan tidak pernah puas, no matter what you have given to him. Menyadari bahwa kita takkan pernah sanggup membalas kado yang sepadan, kita hanya bisa mensyukuri penebusan Yesus atas kita. Namun demikian, mensyukuri bukan berarti diam saja dan ‘stay flat’ dalam iman.

Alkitab sebenarnya mempunyai ‘wishlist’ lengkap Tuhan yang harus kita penuhi. Wishlist tersebut sangat banyak dan secara logika hampir mustahil untuk memenuhi semuanya (misalnya mengorbankan nyawa untuk orang lain.) Namun demikian, kalau dilihat secara holistik, Wishlist Tuhan hanya merujuk pada satu hal : supaya kita “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29).

Wishlist Tuhan, yang dalam kata lain adalah Alkitab sendiri, sebenarnya adalah checklist yang membantu kita untuk semakin mendekati kesempurnaan sesuai dengan gambaranNya, yakni pribadi Yesus sendiri. Ketika kita ditebus oleh Yesus, it simply means kita menjadi milik Tuhan, bukan dosa (dunia) lagi. Bicara tentang kepemilikan, setiap karyawan menjadikan bos-nya sebagai poin rujukan untuk hal yang benar. Sama halnya dengan kita yang harus menjadikan penebus kita sebagai rujukan hidup yang tepat.

Tentunya mustahil untuk tiba-tiba menjadi seperti Yesus di hari natal. Kedagingan kita masih membatasi kemampuan kita untuk menjadi Tuhan, dan Tuhan sendiri tahu tentang ini (Matius 26:41). Tuhan tidak pernah expect kita untuk tiba tiba bertransformasi menjadi nabi atau penyelamat, tapi dia selalu berharap bahwa kita bertumbuh secara konstan di dalamNya (2 Petrus 3:18 ; Yohanes 15:1-5). Konkritnya, kita senantiasa berusaha untuk memenuhi wishlist Tuhan satu per satu seiring perjalanan hidup kita. Natal sendiri diharapkan menjadi yearly reminder tentang objective rohani kita untuk tahun kedepan.

Untuk menutup, penulis ingin mengingatkan bahwa bagaimanapun, kita harus tahu juga ‘wishlist’ Tuhan secara lengkap dari awal sampai akhir, jadi alangkah baiknya bila kita bisa berkomitmen untuk membaca seluruh Alkitab setidaknya sekali seumur hidup. Bukan saja itu menjadi achievement hidup yang layak dibanggakan, namun juga merupakan langkah awal yang sangat baik untuk memberi kado yang layak untuk Tuhan.

For overseas student

Kecewa dengan Jakarta atau Indonesia?

Jangankan manusia, Tuhan aja uda berkali-kali kecewa dengan bangsa (negara) pilihannya.

Bagi yang sudah membaca kitab Raja-Raja 1 dan 2 sampai habis, tentunya tahu bagaimana labil bangsa Israel (dan Yehuda). Kelabilan tersebut juga terpicu oleh pemimpin yang menolak belajar dari pendahulunya (yang taat) sehingga mereka terbawa oleh arus buruk yang membuat seluruh bangsa Israel dan Yehuda jatuh pula.

Sebagai overseas, sering kita labil tentang “pulang” atau “staying” setelah studi. Tidak ada salahnya kita memilih “staying” , kalau memang panggilannya sudah jelas disitu dan siap berdampak untuk bangsa lain.

Namun kalau alasannya karena “lelah” atau “kecewa” dengan kota/Negara asal/tujuan kalian, mungkin boleh dipikir-pikir lagi, karena tentunya itu BUKAN SUARA TUHAN.

Dalam setiap jenjang waktu tertentu, bangkit seorang raja yang membawa Israel (ignore Yehuda dulu demi simplicity penjelasan) kembali ke jalan yang benar. Menggunakan hitungan matematika kasar, rasio antara raja yang ‘sesat’ dan raja yang ‘taat’ mungkin sekitar 1:7.

Artinya, dalam 7 periode Israel (bukan 7 tahun ! 7 periode bisa puluhan tahun tergantung durasi kekuasaan sang raja) terjadi kejadian kejadian regresif terus menerus yang membuat Tuhan geleng geleng kepala. Kejadian regresif ini berlanjut dan disupport oleh generasi raja selanjutnya yang tidak mengikuti jalan Tuhan. Di 2 Raja-Raja 10-21 bisa dilihat bahwa ketika ada raja yang menolak ikut Tuhan, dia mendirikan mezbah berhala. Ketika raja tersebut mati, raja selanjutnya malah membuat bakti pelacuran, dan raja selanjutnya lagi menambah bukit pengorbanan anak, dan seterusnya.

Namun kembali lagi pada matematika awal, dimana ‘roughly’ setiap 7 tahun lalu ada raja yang akhirnya hidup bersih sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan pada saat itu juga terjadi gebrakan gebrakan pembaharuan yang sangat radikal. Satu raja tersebut bisa menghancurkan seluruh hal buruk yang sudah dibangun oleh 7 raja generasi sebelumnya, yang bahkan kadang-kadang merupakan ayah dia sendiri ! (*nb : meskipun tidak selalu. Ada raja yang membersihkan secara tidak tuntas seperti di 2 Raja Raja 18). Raja-raja inipun biasa diberkati Tuhan untuk menduduki kota atau Negara lain dan membenahi Negara yang dijajah tersebut.

Namun inti yang saya mau tekankan untuk kalian semua di grup ini adalah 2 Raja-Raja 22, dimana seorang Raja berumur 8 tahun menjadi turning point maha dahsyat dari seluruh kebobrokan yang sudah bikin Tuhan ‘terserah deh elo mau apa gue uda cape’. Kita bisa melihat bagaimana dia sejak awal memilih untuk hidup dalam Tuhan meskipun kemampuan kognitifnya masih sangat mentah (umur 8 tahun ngerti apa sih?), malah raja-raja sebelumnya yang diangkat takhta saat sudah dewasa menolak untuk ikut Tuhan.

Saya bukan bermaksud menyamakan kalian dengan seorang raja umur 8 tahun secara umur, namun disini kita melihat dua kesamaan yaitu : KECIL (meskipun huruf ini besar hehehe). Kita mungkin sekarang hanyalah seorang manusia kecil yang numpang di Negara atau kota orang untuk belajar. Tapi kalau kita mau menjadi dampak dan berperan sebagai turning point, apakah tidak bisa? Tentu bisa, dengan cara kita minta TUHAN untuk mengangkat kita menjadi ‘RAJA’ supaya bisa membawa dampak bagi ‘rakyat’.

Caranya? Loh ya banyak :

1. Menjadi ‘raja’ nilai dalam suatu pelajaran/kelas

2. Menjadi ‘raja’ yang menggembalakan (read : menjadi pendengar yang baik)

3. Menjadi ‘raja’ ekstrakurikuler

4. Dan lain lain tentunya.

Dan tentunya seiring dengan berjalannya waktu, apabila kita terus mengikuti Tuhan, tentunya ‘takhta kita akan diteguhkan’ – baca : makin berdampak dan hidup kita sendiri makin tercukupi.

So, jangan sampe Setan intimidasi kalian dengan bilang hal-hal bodoh seperti

1. Gausa balik ke Jakarta, uda ga akan bisa beres tuh kota (buktinya sekarang saudara kita Pak Ahok uda mulai kelihatan kan seperti di Kitab Raja-Raja )

2. Gausa tinggal di Australia/Cina/Singapore, lu ga akan bisa apa-apa disana selain jadi orang numpang.

Nah dari sinipun, hadapi panggilan kalian :

1. ‘Serang’ kota/Negara lain dan jadilah raja yang membawa pembaharuan

2. Kembali ke kota kalian dan benahi itu semua!

Apapun pilihan yang kalian pilih, apabila sejalan dengan Tuhan percayalah kalian akan sukses disana!

Cek lebih banyak lagi topik Kristiani : klik disini 

Saya dulu menulis untuk blog Youth saya, lebih banyak lagi tulisan Kristiani disana : DNA Blog that needs to be updated

Bagi anak DNA yang baca ini : kalau kamu suka menulis, tolong pelayanan jadi penulis seperti saya dulu ya 🙂

Sindiran Pengikut Tuhan

Jangan salah, saya seorang anak Tuhan, tapi melihat kelakuan teman-teman saya yang anak Tuhan, saya rasa perlu dikasih sindiran supaya mereka sadar akan kelalaian nya.

 

Ketika Tuhan jadi alasan untuk Kejahatan

Betapa mudahnya manusia menyalahgunakan?
Kalau ada kejadian, sebut saja nama Tuhan.

Sudah bosan sama perempuan?
Bilang saja kita ga jodoh kata Tuhan.

Iri sama teman?
Bilang kata Tuhan dia itu batu sandungan.

Naksir sama yang ga seiman?
Bilang aja sudah dapat ijin Tuhan.

Kata siapa gereja itu gereja setan?
Gue abis doa begitu kata Tuhan.

Kalau gagal karena kelalaian?
Bilang saja cobaan dari Tuhan.

Sederhana tapi mumet : Pola Pikir Kerajaan Allah

Jumat lalu saya dikejutkan dengan pembicaraan yang berujung sedikit panas karena sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang kawan koleris saya : “Apa sih pola pikir kerajaan Allah itu”?.

Tanpa pikir panjang lidah dan bibir saya langsung bergelut untuk ngerocos, tetapi hati saya rendah, menyadari bahwa ada otoritas yang lebih tinggi dan lebih layak untuk menjawab. Penjelasan panjang lebar pun mulai diberikan dan hasilnya adalah ‘TIDAK MENGERTI’ dari pihak penanya.

Ketika saya mau mencoba menjelaskan dengan bahasa duniawi dan istilah sederhana, saya diserobot oleh otoritas lain yang tidak kalah luar biasanya dalam menjabarkan istilah2 kerohanian. Namun sekali lagi : Penyanya tidak mengerti.

Diskusi dalam komsel hari itu akhirnya berujung pada kekecewaan sebagian orang, termasuk saya. Di satu sisi saya kecewa terhadap penanya. Apakah dia hanya menguji sesamanya? Mengapa melontarkan pertanyaan seperti itu dengan nada yang keras? Mengapa tidak mendapatkan pemahaman dr penjelasan yg demikian panjang?

Dan juga kecewa dengan penjawab-penjawab yang seharusnya lebih paham daripada saya, namun gagal dalam menjelaskan konsep POLA PIKIR KERAJAAN ALLAH TERSEBUT. Dalam tulisan ini saya akan mencoba menjabarkan apa yang saya ketahui tentang jawaban dr pertanyaan diatas, sekaligus membayar hutang karena tidak berbicara saat itu.

Sebelum melanjutkan, baiklah diingat bahwa saya juga bukan Allah sendiri yang bisa menjawab tepat 100%, jawaban saya tidaklah abstrak namun juga tidak radikal. Saya akan menulis jawaban secara moderat, sehingga pembaca bisa mendapatkan fondasi dan melanjutkan jawabannya sendiri.

Penjelasan saya mulai dengan definisi dari ‘Kerajaan Allah’
Apa sih Kerajaan Allah itu? Tenang, anda tidak usah susah2 berpikir, saya bukan orang yg malah bertanya balik sebagai respon terhadap pertanyaan.

Bagi kebanyakan orang, mereka menggambarkan Kerajaan Allah sebagai suatu tempat/lokasi dimana Allah mendirikan istananya dengan segala bala tentara surgawi, dimana kita bisa hidup indah seperti fantasi anak kecil disana. Definisi ini sesungguhnya salah. Apabila anda mendalami dunia teologi dan sudah membaca habis perjanjian baru, Kerajaan Allah adalah SUATU FONDASI dari pengajaran Yesus. Ini seperti fundamental bagi apa yang dilakukan Yesus selama dia hidup (ekuivalen dengan UUD untuk Indonesia). Yesus sendiri melihat kerajaan Allah sebagai suatu KONDISI yang ia cita-citakan sebagai buah dari pengajarannya.

—-Sesi ini belum sempurna karena ada kehilangan referensi, anda bisa membantu melengkapi sesi ini—
Bagi anda yang mendalami teologi Alkitab, tentu tahu bahwa kelompok Farisi, Saduki, Herodian, Eseni, Masoret masing-masing mempunyai ‘konsep’ tersendiri dalam pergerakannya baik di bidang politik maupun agama. Ambil contoh salah satu kelompok diatas menganut pandangan apokaliptik (saya tidak hafal pencocokannya yang mana) dan kelompok lainnya ada yang menganut konsep bahwa untuk mengikuti Allah secara sungguh2 maka setiap pria harus dikebiri. Ini fakta benar dan anda bisa membuktikannya sendiri dengan cara bertanya dengan sarjana teologi (jangan saya!). Tapi yang mau saya tekankan disini adalah, Yesus pernah dipertanyakan dasar pergerakannya oleh orang-orang Farisi. Tidak jelas referensinya kitab apa atau ini sekedar interpretasi orang beriman, namun jawaban Yesus ketika mendengar pertanyaan itu adalah : “Saya bergerak dengan konsep kerajaan Allah” berbeda dengan konsep2 lain yang sudah ada saat itu.
—-Sesi diatas belum sempurna karena ada kehilangan referensi, anda bisa membantu melengkapi sesi ini—

Sampai sini anda boleh agree atau disagree dengan saya mengenai definisi kerajaan Allah. Setiap manusia punya interpretasi lain tentang setiap hal, terutama dalam hal agama. Jika anda punya definisi lain, simpanlah dahulu karena kesimpulan dari jawaban saya ini pasti berujung sama apapun definisi anda tentang kerajaan Allah.

Lalu dilanjutkan dengan definisi POLA PIKIR. Tidak ada definisi mutlak terhadap frasa ini, jadi mari kita jabarkan satu-satu.

Definisi Pola menurut kamus besar bahasa Indonesia :

po.la
[n] (1) gambar yg dipakai untuk contoh batik; (2) corak batik atau tenun; ragi atau suri; (3) potongan kertas yg dipakai sbg contoh dl membuat baju dsb; model; (4) sistem; cara kerja: — permainan; — pemerintahan; (5) bentuk (struktur) yg tetap: — kalimat: dl puisi, — adalah bentuk sajak yg dinyatakan dng bunyi, gerak kata, atau arti

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/pola#ixzz2JLfjDhkt

Mari lihat definisi yang saya tulis tebal. Pola adalah cara kerja (4) dalam struktur yang konstan (5). Singkatnya saya menyumpulkan pola adalah suatu konsistensi dalam melakukan sesuatu.

Berikutnya adalah definisi dari PIKIR(an)

pi.kir
[n] (1) akal budi; ingatan; angan-angan: ahli — , ahli falsafah; filsuf

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/Pikir#ixzz2JLgnmQC4

pi.kir.an
[n] (1) hasil berpikir (memikirkan): ia pandai menangkap ~ dan perasaan orang lain; (2) akal; ingatan; (3) akal (dl arti daya upaya): mendapat ~; (4) angan-angan; gagasan: ~ baru; (5) niat; maksud: tidak ada ~ akan berhenti bersekolah

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/pikiran#ixzz2JLguaXiA

Pikir atau pikiran bisa kita simpulkan sebagai akal budi (dimana orang Kristen percaya sebagai karunia bagi manusia yang tidak didapat makhluk hidup lain) dan hasil dari akal budi tersebut (poin 1 dari definisi kedua). Pikiran adalah sesuatu yang didapat (poin 4 definisi kedua).

Sekarang saya berikan kebebasan bagi pembaca untuk mengambil kesimpulan dari definisi POLA PIKIR. bagi saya sendiri,
Pola Pikir adalah hasil dari akal budi anda yang menghasilkan sesuatu dalam konsistensi terhadap sesuatu. Jadi, jika digabungkan dengan kerajaan Allah, definisinya sedikit lebih panjang menjadi

Pola Pikir Kerajaan Allah adalah hasil dari akal budi anda yang menghasilkan sesuatu dalam konsistensi terhadap terwujudnya kondisi yang diinginkan Allah untuk terjadi melalui pewartaan Yesus Tuhan.

Saya kira satu kalimat definisi (yang cukup panjang) diatas sudah cukup untuk menggambarkan keseluruhan konsep kerajaan Allah. Namun bagi anda yg berpikir kritis, atau koleris seperti teman saya yang sudah disinggung diatas, tentunya akan menyerang saya dengan pertanyaan : “Lalu penerapannya dalam realitas bagaimana”

Penerapannya dalam realitas sebenarnya sama seperti judul tulisan ini : Sederhana tapi mumet. Saya bukan berusaha membuat kontradiksi dalam menjawab pertanyaan ini, tapi memang karena pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara sempurna dan mutlak seperti menjawab “Apakah kamu di rumah” Yang jawabannya “ya” atau “tidak”. Pertanyaan ini selevel dengan pertanyaan “Kamu perempuan atau laki-laki” dilontarkan di Thailand.

Namun bagaimanapun tidak adil apabila saya tidak menjawabnya. Jadi secara singkat, ini adalah format Q dan A yang saya jabarkan ulang :

Q : Bagaimana penerapan pola pikir kerajaan Allah dalam realitas kehidupan?
A : Setiap waktu hendak berbuat sesuatu (yang merupakan buah dari akal budi) tanyakan kembali pada OTAK (bukan hati) anda “Apakah perbuatan saya ini, apabila dilakukan dengan cara ini, akan menyumbang kontribusi bagi berkembangnya (kondisi) kerajaan Allah?”

Simple bukan? Jawabannya sederhana seperti diatas, namun menjadi mumet karena setiap orang punya pola pergerakannya sendiri dalam berpikir, akibatnya satu orang bisa berpikir bahwa orang lain salah dalam menerapkan Pola Pikir Kerajaan Allah, meskipun mereka sebenarnya berpikir dalam satu fondasi yang sama.

Q : Kenapa harus otak? Kenapa tidak hati?
A : Baca kembali definisi pola pikir diatas. Realitas kehidupan bicara tentang praktik iman dan bukan isi hati. Hati ambil andil dalam setiap keputusan kita (suara hati, rasa guilty) namun pikiran tetap buah dari otak.

Q : Saya tidak mengerti semua isi tulisan anda ini.
A : Saya sarankan anda untuk : 1) berdoa ; atau 2) mengambil atau mengulang pelajaran bahasa Indonesia sekolah dasar ; atau 3) pukul komputer / laptop anda dengan linggis.

Akhirnya saya menutup tulisan ini dengan menegaskan bahwa pembaca diperbolehkan menginterpretasikan Pola Pikir Kerajaan Allah sendiri-sendiri. Saya hanya bisa membantu dan bukan Tuhan sendiri yang pasti benar, ataupun Hakim Agung yang berhak bilang benar atau salah. Saya hanya berusaha membantu, dan apabila bagi anda tidak membantu… Ya sudah, tidak apa-apa. Toh saya juga tidak dibayar 😀

Sekian, GBU.

Hak Kita : Cinta, Pertobatan, Penyembuhan

Cinta, pertobatan, dan penyembuhan adalah bagian dari kehidupan manusia, terutama manusia yang percaya. Untuk bisa mencapai ketiganya (dimana ketiga hal tersebut kalau kita perhatikan merujuk pada kebaikan hidup) kita harus berani lepas dari intimidasi/tantangan supaya bisa disembuhkan. Bagaimana tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan ketika dalam kesusahan? Apakah sama seperti saat senang?

Kita lihat kisah di Yeremia 31 : 7-9, dimana Nabi Yeremia menghibur umat Israel yang sedang galau dalam pencobaan (ada di pembuangan). Sukacita merupakan satu kunci untuk bisa lepas dari intimidasi. Sukacita adalah kunci supaya tidak merasa terbuang di dunia.

Selain itu, jaminan kita untuk mendapatkan cinta, pertobatan, dan penyembuhan bukanlah sekedar dokter pintar ataupun cinta dari seorang pasangan idaman, namun seorang Imam Agung yang tidak lain adalah Yesus Kristus sendiri (Ibrani 5:1-6)
Adalah sia-sia kalau kita hidup tanpa berusaha ‘naik level’ dalam kehidupan rohani kita. Hendaknya kita “menemukan wajah Yesus dalam kehidupan kita” Markus 10 : 46-52 menunjukkan kisah seseorang yang fokus dan percaya, kontras dari orang sakit di tepi kolam (baca preach Anjing hidup diatas singa mati oleh kak Tommy tanggal 13 Oktober).

Kira-kira kenapa ya Markus kurang kerjaan sekali sampai-sampai menulis nama orang tua (“Bartimeus anak Timeus)?

1. Dari segi rohani : Nama Timeus berarti “beban, kotor, polusi, bodoh”. Hal ini menunjukkan bahwa Bartimeus sendiri lahir dari keluarga yang ‘kotor’, tidak baik, dan tidak hidup untuk Tuhan. Dosa membuat kita menjadi ‘buta’, kehilangan arah, dan ditolak. Namun nanti kita lihat bahwa ia diubahkan oleh kehadiran Yesus.

2. Dari segi duniawi, dalam ilmu linguistik ada yang disebut dengan Ethos, Logos dan Pathos. Tiga tehnik ini dipergunakan dalam tulisan untuk membuatnya persuasif dengan menyampaikan fakta-fakta atau mempengaruhi emosi. Nampaknya Markus menggunakan teknis logos, dimana ia menunjukkan bahwa “Bartimeus benar-benar ada, kejadian ini benar, dan ia merupakan anak dari Timeus (supaya orang yakin bahwa tokoh Bartimeus bukan karangan belaka”)
Bartimeus berani dan secara semangat menuntut pemulihan dari Yesus, meskipun ditegur dan dimarahi orang-orang (refleksi dari intimidasi dan halangan-halangan duniawi). Ia tidak patah semangat hanya karena dunia memberinya kesulitan (ingat bahwa ia buta, suatu halangan besar yang membuatnya sulit menggapai Yesus). FOKUSNYA hanya kepada Yesus dan ia melakukannya dengan SEMANGAT, SUKACITA, dan KEYAKINAN.

Pada awalnya Yesus tidak langsung menanggapi panggilan pertama Bartimeus, namun ia semakin keras berteriak dengan rasa percaya bahwa Yesus pasti memberi kasihan padanya. Teriakan Bartimeus demikian : “Yesus anak Daud, kasihanilah aku” bukan “Yesus anak Daud, sembuhkanlah aku”. Bartimeus menghargai otoritas pribadi Yesus sebagai Tuhan, dia tidak langsung meminta melainkan sekedar meminta ‘belas kasihan’ – soal apa yang dilakukan Yesus kepadanya selanjutnya, ia tidak peduli dulu. Kita pun dalam meminta dari Tuhan harus seperti Bartimeus : tidak putus asa apabila belum ditanggapi/dijawab, dan meminta dengan mengingat otoritas Tuhan itu sendiri (tidak seenaknya meminta – ingat bahwa sesungguhnya Tuhan yang maha memberi dan mengerti kebutuhan kita).

Pada akhirnya, Tuhan BERHENTI dan MERESPON pada panggilan Bartimeus. Nah, harusnya kitapun bisa seperti itu, memanggil Tuhan dengan penuh keyakinan supaya Tuhan secara khusus berhenti dan merespon kita untuk memberi cinta, pertobatan, dan penyembuhan. Permasalahannya adalah, apakah kita memanggil Tuhan dengan iman yang berkualitas? Mencontoh dari Bartimeus, kita bisa mengintip seperti apa iman yang berkualitas itu :

1. Fokus kepada Tuhan : Bartimeus berteriak2 hanya untuk mendapatkan perhatian Tuhan, bukan malah ngotot minta orang disekitarnya untuk membantunya bertemu dengan Tuhan. Ia yakin Tuhan sendiri yang akan menghampirinya secara personal

2. Cuek terhadap goncangan, dan malah membuatnya semakin termotivasi untuk memanggil Tuhan-ayat 48

3. Percaya bahwa Tuhan mendengar dan merespons kita, sekaligus percaya bahwa Tuhan sanggup melakukanNya. Bartomeus di ayat 51 tidak menggunakan kalimat permohonan tanya : “bisakah engkau membuatku sembuh?” namun menggunakan kalimat permohonan seru : “Rabuni, supaya aku dapat melihat!”, perlu kita catat bahwa Yesus sendiri yang bertanya DULUAN “apa yang dapat kuperbuat bagimu?” Sehingga Bartimeus berani menjawab seru demikian (ingat poin tentang menghargai otoritas Tuhan diatas)

4. Tidak lupa dan membalas kebaikan Tuhan – ayat 52, ia menjadi mengikuti Yesus sehabis disembuhkan.

5. Menanggalkan beban duniawi – ayat 50 ‘outer garment’ menggambarkan demikian
Bartimeus tidak malu untuk menghadap Tuhan, memanggilnya dengan berteriak-teriak, dan MEMINTA sesuatu (penyembuhan) meskipun ia mungkin sebelumnya orang yang terbuang, tidak pernah belajar agama, dan hidup dalam sisi gelap.

Kita pun tidak perlu malu untuk mengungkapkan iman kepada Tuhan seburuk apapun kondisi iman kita saat ini. Memang kita dituntut untuk hidup dalam iman yang berkualitas supaya kita bisa diperanakkan seperti Yesus sendiri, tapi tidak pernah ada batasan ‘minimum’ untuk meminta bimbingan dari Tuhan sendiri. Yesus mengerti segala permasalahan kita maka ungkapkanlah segala kekayaan (dalam arti baik kekurangan dan kelebihan) hidup kita kepadaNya (mempasrahkan). Dengan cara ini iman kita tentunya akan lebih ‘berkualitas’ karena kita memohon bimbingan langsung dari sang Imam Agung, dan ia akan dengan senang hati memberikan bimbingan lewat Roh Kudus supaya iman kita bisa ‘naik LV’.

Aturan Tuhan > Aturan manusia

“Aturan Tuhan lebih penting daripada aturan manusia”
Markus 7 : 1-8

Tiap organisasi (bahkan organisasi paling kecil – keluarga) pasti selalu memiliki peraturan yang mengatur anggota didalamnya.

Supaya efektif, aturan harus selalu up to date dengan condition at hand (situasi yang sedang berlangsung)
Jaman Yesus dulu, orang Farisi mempertahankan tradisi ‘kecil’ yang bukannya membantu orang lain namun malah menyulitkan orang. Padahal aturan dibuat untuk membantu manusia (ketertiban, keamanan) namun oleh orang Farisi, hukum taurat malah membuat serba sulit.

Seperti yang sudah kita tahu sebelumnya bahwa kita harus lebih mengatasi dan menghormati Tuhan diatas manusia, hendaknya kita memprioritaskan kesenangan hati Tuhan ketimbang manusia. Satu-satunya hukum yang ditulis Tuhan di perjanjian baru hanya satu : Hukum Cinta Kasih. Kasih bahkan digambarkan sebagai pribadi Tuhan itu sendiri.
Dengan demikian, cinta kasih > peraturan.