Nostalgia Kemerdekaan

Tubuh berserak di pinggir jalan
Derapan langkah dibalik rerumputan

Semerbak harum nyanyian
Terikat suara tangisan dara
Kutanya pada yang tua
Apa makna sebuah dosa

Ketika mereka dipuja
Oleh eluan merdeka
Yang muda diam terlena
Yang tua tiada berdaya
Semua tenggelam dalam suara

Ku diam terpana
Terhasut derap kaki kuda
Darah darah terlukis pada awan
Bagaikan hujan organ organ

Ku duduk di tepi meja
Berdua dengan sang pena
Di ruangan tanpa hawa
Tanpa canda tanpa tawa

Ketika kulihat yang berkuasa
Tak kutangkap makna kebebasan
Yang terlihat hanya kekuatan
Kekuatan dan perlawanan

Apalah daya seorang pemuda
Kalau ditanya apa yang dipunya
Hanya kertas dan pena
Dan sebuah pemikiran

Wacana yang terpendam dalam jiwa
Telah terlepas ke alam surga
Pikiran-pikiran yang tersimpan
Telah tertuang ke sudut ruangan

Ketika kuasa kalah oleh tulisan
Ketika yang muda punya iman
Maka tak lagi perlu demonstran
Tak butuh lagi kekuatan

Janganlah cinta kita simpan
Tapi buanglah semua kebencian
Wajah wajah yang tampan
Sudah tak lagi sepadan

Kututup ini dengan senyuman
Kutahu mereka mendengarkan
Apa yang sudah kuserukan
Untuk sebuah kemerdekaan.

Menyambut Kemerdekaan Indonesia

Kemerdekaan kembali dirayakan tahun ini. Beberapa merasa bertambahnya umur kemerdekaan merupakan sesuatu yang berharga, namun yang lainnya merasa perayaan kemerdekaan adalah sesuatu yang statis dan tidak bermakna apa-apa.

Anak muda seperti kita, tentunya memiliki pemikiran yang lebih kritis. Melihat keadaan negara tempat kita berpijak sekarang, tentu kita merasa banyak hal di Australia yang harusnya ada di Indonesia juga. Apa saja? Ah, kalau saja sebutkan satu persatu, lebih baik saya menulis sebuah buku !

Ketika beberapa antusias menyuarakan perubahan, lebih banyak yang kelihatan apatis.

Keadaan kita yang apatis tak jauh berbeda dengan Gideon dulu ketika Israel sedang ditekan oleh bangsa Midian. Gideon yang sebenarnya punya potensi, memilih untuk bersembunyi dan malah mengirik gandum (pekerjaan yang tidak besar – Hakim Hakim 6:11)

Ketika Tuhan memilih dia untuk membawa perubahan, Gideon menunjukkan sikap apatisnya dengan berkata “Kalau Tuhan menyertai kami, kenapa keadaan kami melarat begini? Saya ini orang kecil pula.” (dipersingkat, ayat 13&15)

Tuhan malah menjawab dengan mengutus Gideon. Kenapa? karena Tuhan butuh (keikutsertaan) Gideon (alias kita) sebagai tangannya (ayat 14). Dia tidak ingin kita diam dan hanya mengikuti angin (pasrah pada keadaan)

“Saya tak mau jadi pohon bambu. Saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin ” – Soe Hok Gie.

Kalau kamu pikir kisah Gideon sudah tak relevan karena terlalu ‘religius’ dan ‘kuno’, bacalah kisah Soe Hok Gie, seorang aktivis orde lama beragama Katolik yang menyuarakan perubahan lewat tulisan dan kegiatan non-konvensional.

Berusaha membawa perubahan tidak pernah harus dengan cara-cara yang ‘wah’ dan besar. Gideon pun memulai tugas pertamanya (ayat 25-26) hanya dengan merobohkan mezbah Baal dan membangun mezbah Tuhan, menunjukkan kepada komunitasnya bahwa mereka salah. Soe Hok Gie memulai pergerakan pertamanya dengan menunjukkan kepada komunitasnya bahwa mereka harus berbuat sesuatu.

Relevannya untuk kita,

1. Cari apa kelebihan dirimu (apa yang kamu suka dan ahli lakukan) dan tekunkan itu.

2. Mintalah arahan Tuhan dan percayalah Ia bersama kamu karena Dia pun ingin kamu maju.

3. Mulailah bertindak di komunitas terkecilmu, tunjukkan kamu anak Tuhan yang punya potensi, dan bawa dampak baik dengan apa yang kamu punya!

“Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”

― Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

“…Tetapi Tuhan lah yang akan berkuasa atas dirimu ”

― Gideon, Hakim – Hakim 8:23 (implicit)