Muda dan Berjaya

Komputer bertambah cerdas setiap harinya
Enam milyar data sudah tak ada artinya
Virtualisasi menghapus realisasi kita
Inovasi membunuh yang tak bersuara
Nomor nomor semakin panjang tapi tak lagi berharga

Film film tak lagi mensuarakan perubahan
Ilmu pengetahuan tak lagi bicara kebenaran
Lambat laun kita kalah oleh yang kita ciptakan
Manusia harus sadar akan batasan
Ada tingkatan dalam ciptaan Tuhan
Walau kendati demikian
Ada segelintir harapan
Nama nama muda yang penuh dengan pencerahan

Tetaplah berjuang generasi muda
Harapan dunia di pundak kita
Entah kapan kita akan berjaya
Niscaya Tuhan di pihak kita

Advertisements

Kado untuk Tuhan

Kita anak muda Kristiani tak perlu diajari lagi bahwa natal adalah perayaan besar umat Kristiani. Kelahiran Tuhan Yesus? Check. Misa dengan event? Check. Tukeran kado? Check. Tapi pernah ga sih kepikiran kado apa yang paling layak dikasih ke Tuhan Yesus sendiri? Tentunya berat banget mikirin kado apa yang ‘seimbang’ dengan semua yang udah Tuhan kasih ke kita.

Kado yang layak untuk Tuhan sebenarnya hanya satu: bahwa kita simply menerima ‘kado’ pengorbanan Yesus dengan sungguh – sungguh. Tanpa bermaksud kurang ajar,  Mikha 6:7 sendiri menegaskan Tuhan tidak pernah puas, no matter what you have given to him. Menyadari bahwa kita takkan pernah sanggup membalas kado yang sepadan, kita hanya bisa mensyukuri penebusan Yesus atas kita. Namun demikian, mensyukuri bukan berarti diam saja dan ‘stay flat’ dalam iman.

Alkitab sebenarnya mempunyai ‘wishlist’ lengkap Tuhan yang harus kita penuhi. Wishlist tersebut sangat banyak dan secara logika hampir mustahil untuk memenuhi semuanya (misalnya mengorbankan nyawa untuk orang lain.) Namun demikian, kalau dilihat secara holistik, Wishlist Tuhan hanya merujuk pada satu hal : supaya kita “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29).

Wishlist Tuhan, yang dalam kata lain adalah Alkitab sendiri, sebenarnya adalah checklist yang membantu kita untuk semakin mendekati kesempurnaan sesuai dengan gambaranNya, yakni pribadi Yesus sendiri. Ketika kita ditebus oleh Yesus, it simply means kita menjadi milik Tuhan, bukan dosa (dunia) lagi. Bicara tentang kepemilikan, setiap karyawan menjadikan bos-nya sebagai poin rujukan untuk hal yang benar. Sama halnya dengan kita yang harus menjadikan penebus kita sebagai rujukan hidup yang tepat.

Tentunya mustahil untuk tiba-tiba menjadi seperti Yesus di hari natal. Kedagingan kita masih membatasi kemampuan kita untuk menjadi Tuhan, dan Tuhan sendiri tahu tentang ini (Matius 26:41). Tuhan tidak pernah expect kita untuk tiba tiba bertransformasi menjadi nabi atau penyelamat, tapi dia selalu berharap bahwa kita bertumbuh secara konstan di dalamNya (2 Petrus 3:18 ; Yohanes 15:1-5). Konkritnya, kita senantiasa berusaha untuk memenuhi wishlist Tuhan satu per satu seiring perjalanan hidup kita. Natal sendiri diharapkan menjadi yearly reminder tentang objective rohani kita untuk tahun kedepan.

Untuk menutup, penulis ingin mengingatkan bahwa bagaimanapun, kita harus tahu juga ‘wishlist’ Tuhan secara lengkap dari awal sampai akhir, jadi alangkah baiknya bila kita bisa berkomitmen untuk membaca seluruh Alkitab setidaknya sekali seumur hidup. Bukan saja itu menjadi achievement hidup yang layak dibanggakan, namun juga merupakan langkah awal yang sangat baik untuk memberi kado yang layak untuk Tuhan.