Bagaimana Menjalani Hidup Maksimal Dalam Tuhan

 
*Tema ini juga diangkat Caritas untuk Project Compassion 2014, yang merupakan inspirasi saya untuk membuat tulisan ini.
 
1. Yesus sendiri mengakui, dengan kedatangannya kita diberikan ‘hidup’ dan menghendaki kita mengisi hidup tersebut sepenuh penuhnya (Yohanes 10:10). Tapi demikian, apa yang harus kita isikan? Apakah level 99 di game? Apakah doa 12 jam sehari? Apakah nilai High Distinction di rapor ?
 
2. Yesus menegaskan bahwa TIDAK CUKUP hidup hanya berdasarkan doa dan baca firman doank (Matius 7:21). Ia bahkan menegaskan orang yang kerjaannya hanya berteriak ‘Tuhan’ adalah nabi palsu, dan Ia tidak akan mau mengakui kenal orang-orang yang tidak beraksi sama sekali (omong doang). Di waktu kosong, ada baiknya anda membaca ringkasan dari sastra lama Indonesia ‘robohnya surau kami’. Di sastra tersebut digambarkan bagaimana kacaunya hidup apabila hanya didasarkan pada doa tanpa usaha. Sastra ini secara personal merupakan ‘all-time favourite’ untuk saya sendiri.
 
3. Mengisi hidup dimulai dari membangun fondasi yang benar. Ada yang ingat eksperimen fisika dimana seorang siswa diminta mengisi batu, pasir, dan air kedalam suatu gelas? Apabila anda mengisi pasir atau air dahulu sebelum batu, tentu semuanya tidak muat masuk. Namun melalui urutan yang benar, anda bisa mengisi semua benda tersebut. Sama halnya dengan kehidupan kita. Fondasi yang kuat dalam Kristus haruslah menjadi hal pertama yang mengisi hidup kita (Matius 7:24), kalau tidak, nilai nilai yang tidak sesuai standar Tuhan terlanjur mengatur mindset kita sehingga menolak kebenaran firman di kemudian hari.
 
4. Setelah dilandasi fondasi yang kuat, barulah kita mengisi hal-hal lain yang lebih bersifat sekunder. Tapi tunggu dulu ! Bukan berarti semua hal juga bisa kita masukkan. Hidup kita punya kapasitas, dan apabila kita tidak memilih baik – baik mana yang masuk, hidup kita mungkin tidak maksimal dalam Tuhan. Nah, tadi kan kita sudah tau, bahwa baik menurut Tuhan dan menurut Tuhan itu berbeda, jadi bagaimana sih membedakan tindakan-tindakan yang baik dimata kita dan baik dimata Tuhan? Tentunya jawabannya ada di Alkitab kita tercinta, tapi secara penulis tau bahwa pembaca sekalian jarang memegang Alkitab, berikut penulis kutip beberapa ayat yang bisa menjadi pegangan** :
 
Matius 7:12 : silah hidup dengan berbuat baik kepada orang lain
Roma 16:17 : berhati hati dalam bergaul
1 Petrus 2:11 : Mengalahkan keinginan daging
Kisah Para Rasul 2:40 : berwaspada terhadap generasi sekarang
2 Timotius 4:2 : nasihatilah sesamamu dalam kesabaran
 
Nah, daripada panjang-panjang dijabarkan disini, mengapa saudara tidak buka sendiri Alkitab saudara dan mencari nasihat-nasihat lain yang sudah Tuhan persiapkan khusus untuk saudara?
 
 
·         Bagian setelah tanda ** tersebut dikutip dari :http://wol.jw.org/en/wol/d/r25/lp-in/1102001123 . Penulis sangat juga menyarankan untuk melihat halaman website tersebut.
Advertisements

Aturan Tuhan > Aturan manusia

“Aturan Tuhan lebih penting daripada aturan manusia”
Markus 7 : 1-8

Tiap organisasi (bahkan organisasi paling kecil – keluarga) pasti selalu memiliki peraturan yang mengatur anggota didalamnya.

Supaya efektif, aturan harus selalu up to date dengan condition at hand (situasi yang sedang berlangsung)
Jaman Yesus dulu, orang Farisi mempertahankan tradisi ‘kecil’ yang bukannya membantu orang lain namun malah menyulitkan orang. Padahal aturan dibuat untuk membantu manusia (ketertiban, keamanan) namun oleh orang Farisi, hukum taurat malah membuat serba sulit.

Seperti yang sudah kita tahu sebelumnya bahwa kita harus lebih mengatasi dan menghormati Tuhan diatas manusia, hendaknya kita memprioritaskan kesenangan hati Tuhan ketimbang manusia. Satu-satunya hukum yang ditulis Tuhan di perjanjian baru hanya satu : Hukum Cinta Kasih. Kasih bahkan digambarkan sebagai pribadi Tuhan itu sendiri.
Dengan demikian, cinta kasih > peraturan.